Konsekuensinya nyata. Setiap individu dengan surat perintah tangkap aktif dari ICC yang menginjakkan kaki di tanah Hongaria, secara hukum, harus ditahan. Jaminan keamanan yang pernah diberikan Orbán kepada Netanyahu kini tidak memiliki landasan hukum apa pun.
Beberapa negara anggota Uni Eropa masih bergulat dengan dilema serupa—antara kewajiban ICC dan pertimbangan imunitas diplomatik. Budapest, di bawah Magyar, tampak memilih untuk tidak berlama-lama dalam keraguan itu.
Janji yang Menunggu Pembuktian
Namun dunia tidak bergerak hanya karena kata-kata. Magyar saat ini masih berstatus perdana menteri terpilih—belantara antara kemenangan elektoral dan kekuasaan riil adalah jarak yang kerap menelan janji-janji besar.
Ujian sesungguhnya akan datang bukan pada hari pelantikannya, melainkan pada hari ketika—atau jika—Netanyahu benar-benar melewati perbatasan Hongaria. Apakah aparat penegak hukum Budapest akan bergerak, atau justru menemukan alasan untuk diam, adalah pertanyaan yang belum terjawab.
Yang pasti: peta telah berubah. Sebuah negara yang dulu menawarkan ketenangan bagi mereka yang diburu hukum internasional kini memilih berdiri di sisi lain garis itu. Budapest, yang pernah menjadi pelabuhan aman, kini menjadi pelabuhan yang pintunya tidak lagi terbuka untuk semua kapal.***



Tinggalkan Balasan