3. Teori Persia

Teori ini melihat kesamaan tradisi, seperti peringatan Asyura, sistem pengajaran huruf Arab, dan penghormatan terhadap keluarga Ali bin Abi Thalib. Budaya Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Sumatera Barat juga disebut mirip dengan tradisi Syiah di Iran.

Namun, karena mayoritas Muslim Indonesia adalah Sunni, teori ini dianggap lemah sebagai teori utama, meski beberapa peneliti seperti Husein Djajadiningrat dan Bellah menaruh perhatian terhadap jejak budaya Persia di Indonesia.

4. Teori China

Teori ini mencatat bahwa Islam telah masuk ke China sejak abad ke-7 dan berkembang pesat sejak Dinasti Tang. Orang-orang China Muslim diyakini bermigrasi ke Asia Tenggara, termasuk ke Palembang pada abad ke-9.

Nama-nama seperti Raden Patah disebut-sebut berdarah campuran Majapahit dan China. Bahkan Slamet Muljana dalam bukunya menyebut Wali Songo adalah keturunan China-Indonesia.

Namun, pendapat ini menuai kontroversi dan ditentang keras, terutama oleh kalangan Nahdlatul Ulama seperti Agus Sunyoto, yang menilai kronik China yang jadi dasar teori ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

5. Teori Turki Utsmani

Asnan Wahyudi dan Abu Khalid menyebut Wali Songo dibentuk langsung oleh Sultan Muhammad I dari Turki Utsmani. Mereka menyatakan surat perintah Sultan masih tersimpan di Museum Istanbul.

Dalam kitab Kanzul Uloom, tertulis bahwa Sultan Muhammad I memerintahkan penguasa di Timur Tengah dan Afrika mengirim ulama terbaik ke Nusantara. Dari situlah, muncul keluarga besar Wali Songo.

Fakta Wali Songo dalam Historiografi Jawa

Terlepas dari semua teori itu, satu hal tetap tak tergoyahkan: Wali Songo tercatat nyata dalam berbagai naskah sejarah lokal.

Kisah kedatangan Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Raden Ali Murtadho atau Sunan Gresik dari Champa pada 1440 M dianggap menjadi tonggak awal dakwah Islam yang terorganisir di Jawa.

Naskah-naskah seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Babad Tjerbon, dan Sadjarah Banten menceritakan kiprah para wali dan keturunannya dengan detail. Mereka tak sekadar berdakwah, tapi juga mengubah sistem sosial dan budaya masyarakat secara damai dan bertahap.

Peran besar Wali Songo makin terlihat ketika Majapahit melemah akibat konflik internal, terutama setelah Bhre Kertabhumi diserbu Dyah Ranawijaya tahun 1478.

Raden Patah—penguasa Demak yang juga keturunan Brawijaya V—mengambil alih kekosongan kekuasaan di wilayah pesisir utara Jawa. Bersama Wali Songo, ia membangun Masjid Agung Demak pada 1479, menandai berdirinya pusat kekuasaan Islam pertama di Jawa.

Teori boleh beragam. Versi boleh berbeda. Tapi jejak Wali Songo terlalu kuat untuk dihapus.

Mereka bukan mitos, bukan dongeng. Mereka nyata, dan merekalah yang mengubah wajah spiritual dan sosial Nusantara hingga menjadi seperti sekarang.***