Tasawuf perlu dibaca ulang sebagai etika publik di tengah krisis ego global.


KOSONGSATU.ID—Konflik geopolitik, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi sosial kini terjadi hampir bersamaan. Banyak solusi ditawarkan, dari teknologi hingga kebijakan global. Namun, krisis tetap berulang.

Sejumlah pemikir menilai, masalahnya bukan semata sistem, melainkan manusia yang kehilangan pusat dirinya. Ego individu, lembaga, dan negara tumbuh tanpa kendali, lalu memengaruhi keputusan publik.

Dalam konteks inilah tasawuf—tradisi etika batin dalam Islam—perlu dibaca ulang sebagai literasi publik, bukan praktik elitis.

Abu Yazid al-Busthami dan Makna Fanā’

Salah satu tokoh penting tasawuf awal adalah Abu Yazid al-Busthami. Ia hidup pada abad ke-9 M dan dikenal karena gagasan fanā’, yang kerap disalahpahami sebagai ajaran mistik ekstrem.

Dalam pengertian sederhana, fanā berarti runtuhnya ego. Manusia berhenti memandang dirinya sebagai pusat segalanya. Yang dikritik bukan dunia, melainkan kesombongan batin.

Jika dibaca hari ini, gagasan ini relevan dengan berbagai persoalan modern: ego kekuasaan yang memicu konflik, ego ekonomi yang merusak lingkungan, ego keagamaan yang mudah menghakimi, hingga ego teknologi yang merasa serba mampu.

Abu Yazid tidak mengajarkan menjauh dari kehidupan sosial. Ia justru mengingatkan bahwa perubahan dunia harus dimulai dari pembenahan kesadaran manusia.

Kejujuran sebagai Inti Shiddiqiyyah

Di Indonesia, nilai tasawuf itu diterjemahkan dalam berbagai tradisi, salah satunya Thariqah Shiddiqiyyah. Tarekat ini berkembang secara formal pada abad ke-20.

Shiddiqiyyah merujuk pada jalur nilai Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat Nabi yang dikenal karena kejujuran total atau ṣidq.

Penekanannya sederhana dan mudah dipahami publik:

kejujuran pada diri sendiri, keselarasan antara iman dan tindakan, serta tanggung jawab sosial.

Dalam tradisi ini, Abu Yazid diposisikan sebagai rujukan nilai batin, bukan pendiri thariqah atau tokoh administratif. Yang diwarisi adalah etika kesadaran, bukan klaim struktural sejarah.

Tasawuf dan Krisis Indonesia Hari Ini

Indonesia menghadapi berbagai persoalan yang berulang. Korupsi terus terjadi meski aturan bertambah. Pendidikan karakter kuat di slogan, lemah di praktik. Kebijakan publik rapi di dokumen, timpang di lapangan.

Kondisi ini menunjukkan krisis kejujuran yang bersifat sistemik. Banyak kebijakan lahir dari kepentingan, bukan kesadaran etis.

Dalam konteks ini, Shiddiqiyyah tidak menawarkan resep teknis. Ia menawarkan kerangka nilaimkejujuran sebelum kecerdikan; kerendahan hati sebelum kekuasaan; kesadaran batin sebelum pembangunan fisik.

Tasawuf sebagai Literasi Publik

Tasawuf sering dipersepsikan sebagai urusan ritual atau kelompok tertentu. Padahal, jika dibaca secara sederhana, tasawuf adalah pendidikan etika sehari-hari.

Ia mendidik pejabat agar jujur pada niatnya. Mendidik warga agar sadar batas konsumsi. Mendidik pemuka agama agar rendah hati. Dan mendidik bangsa agar tidak terjebak simbol.

Pesan Abu Yazid jelas: musuh terbesar manusia bukan selalu sistem di luar dirinya, melainkan ego di dalam dirinya.