Di tengah hidup yang makin mahal dan sistem yang kerap menekan, kejujuran—yang dahulu terasa sederhana—kini menjadi pilihan yang berisiko.


KOSONGSATU.ID—Setiap 27 Rajab dalam penanggalan Hijriyah, sekelompok orang memperingati Hari Shiddiqiyyah. Tahun ini, 27 Rajab 1447 H jatuh pada 16 Januari 2026. Bagi banyak orang Indonesia, tanggal ini nyaris tak berbunyi. Ia hidup sunyi di lingkaran terbatas para pengikut Thoriqoh Shiddiqiyyah—belum menjelma penanda moral yang dikenal luas, apalagi dirayakan secara nasional.

Namun justru di sanalah pertanyaan penting itu mengemuka: apakah nilai yang diperingati Hari Shiddiqiyyah hanya relevan bagi satu komunitas spiritual, atau sesungguhnya ia menyentuh kebutuhan paling mendasar bangsa—bahkan dunia—hari ini?

Kejujuran yang Kian Mahal

Kita hidup pada masa ketika kejujuran sering tidak datang sebagai jalan tercepat. Banyak orang tak berniat berbohong, tetapi tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan sistem yang longgar membuat kompromi kecil tampak “masuk akal”.

Harga kebutuhan naik, kepastian kerja menyempit, ketimpangan sosial belum sepenuhnya surut. Dalam lanskap seperti itu, berkata jujur kerap berarti menanggung risiko—kehilangan peluang, tertinggal, atau disisihkan.

Di titik inilah shiddiq diuji, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai pilihan hidup.

Ketidakjujuran sebagai Masalah Kolektif

Masalah kejujuran hari ini tak berhenti pada ranah pribadi. Ia telah merembes ke level sistemik. Salah satu cerminnya tampak pada Indeks Persepsi Korupsi yang dirilis Transparency International. Indonesia mencatat skor sekitar 37 dari 100 dan berada di kisaran peringkat 99 dari 180 negara. Angka itu bukan sekadar statistik; ia menandai retaknya kepercayaan publik, membengkaknya biaya sosial, dan melemahnya modal kepercayaan—fondasi yang seharusnya menopang kehidupan bersama.

Ketika kepercayaan rapuh, masyarakat membayar lebih mahal: aturan makin ketat, pengawasan berbiaya tinggi, dan kecurigaan menjelma kebiasaan.

Mengapa Hari Shiddiqiyyah Menjadi Relevan?

Hari Shiddiqiyyah bukan perayaan ritual semata. Ia adalah pengingat moral bahwa kejujuran tidak boleh ditanggalkan hanya karena zaman berubah atau hidup makin sulit. Nilai shiddiq yang dirawat Thoriqoh Shiddiqiyyah menekankan kesesuaian kata dan perbuatan, keberanian berkata benar meski berisiko, serta tanggung jawab moral di hadapan sesama.

Nilai-nilai ini bersifat universal. Ia melampaui sekat kelompok, agama, dan bangsa. Di tengah krisis kepercayaan global—dari politik hingga ekonomi—nilai seperti inilah yang justru paling dibutuhkan.

Kejujuran sebagai Modal Sosial

Berbagai kajian menunjukkan, masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih stabil secara ekonomi dan sosial. Kejujuran menurunkan konflik, memperkecil biaya transaksi, dan memperkuat kerja sama. Sebaliknya, ketika ketidakjujuran dibiarkan, semua menjadi mahal—bukan hanya uang, tetapi juga waktu, energi, dan harapan.

Dalam kerangka ini, shiddiq bukan sekadar urusan nurani personal. Ia adalah modal sosial. Dan modal sosial menentukan masa depan.

Dari Peringatan Komunitas ke Nilai Bersama

Memang, hingga kini Hari Shiddiqiyyah masih diperingati secara terbatas. Namun nilai yang dirawat tak seharusnya berhenti di lingkaran itu. Indonesia—dan dunia—membutuhkan lebih banyak ruang untuk merawat kejujuran sebagai budaya bersama. Bukan sebagai jargon, bukan pula slogan, melainkan sebagai laku hidup yang nyata.

Mengingat Agar Tidak Terbiasa

Manusia mudah lupa. Dan ketika lupa, kita mudah terbiasa—terbiasa dengan kebohongan kecil, memaklumi manipulasi, dan berkata, “semua juga begitu.” Hari Shiddiqiyyah, yang hadir setiap 27 Rajab, mengingatkan bahwa kejujuran selalu layak diperjuangkan, terutama saat ia terasa paling sulit.

Bukan karena jujur selalu membawa keuntungan cepat, melainkan karena tanpa kejujuran, apa pun yang kita bangun akan rapuh.

Barangkali, itulah alasan paling mendasar mengapa Hari Shiddiqiyyah perlu terus diperingati—bukan hanya oleh satu thoriqoh, melainkan oleh nurani kita bersama.***