Dari langit ketujuh peristiwa Isro’ Mi’roj hingga tanah sawah Ploso, Jombang, Shiddiqiyyah bergerak sebagai aliran nilai—panjang, konsisten, dan bertahan melampaui zaman.


KOSONGSATU.ID—Sejarah kerap disalahpahami sebagai catatan tanggal dan pergantian kekuasaan. Padahal, ia juga merupakan arus makna yang terus bergerak—kadang tenang, kadang terputus, lalu muncul kembali dalam rupa baru. Di dalam arus itulah Thoriqoh Shiddiqiyyah mengambil tempat: sebuah jalan spiritual (tasawuf) yang menautkan iman, kejujuran, dan tanggung jawab sosial, dari Timur Tengah hingga Nusantara.

Akar Nama: Isro’ Mi’roj dan Keteguhan Membenarkan

Kisah Shiddiqiyyah berawal dari sebuah peristiwa yang mengguncang iman generasi awal Islam: Isro’ Mi’roj. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Ketika kisah itu disampaikan kepada umat, reaksi pun terbelah. Ada yang bertambah yakin, ada yang ragu, dan ada pula yang memilih meninggalkan keyakinannya.

Di tengah kegamangan itu, satu sosok berdiri tanpa syarat dan tanpa jeda: Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia membenarkan peristiwa tersebut sepenuhnya. Tidak dengan argumen panjang, melainkan dengan iman yang tegak. Dari sikap itulah ia dianugerahi gelar Ash-Shiddiq—yang membenarkan, yang jujur sepenuh jiwa.

Gelar itu kemudian menjelma penanda spiritual. Mereka yang memeluk sikap membenarkan dengan totalitas iman—tanpa tawar-menawar ketika kebenaran diuji—dikenal sebagai golongan Shiddiq. Dari sinilah nama Shiddiqiyyah menemukan maknanya: bukan sekadar label, melainkan watak spiritual.

Masa Keemasan: Abu Yazid dan Pilar Spiritualitas

Estafet nilai itu berjalan lintas generasi hingga mencapai satu figur penting dalam sejarah tasawuf: Abu Yazid al-Busthami. Di tangannya, Shiddiqiyyah mencapai fase yang oleh para mursyid disebut sebagai masa keemasan. Ajarannya bersemi kuat di Busthom—wilayah Persia—dan Irbil, Irak, dua pusat peradaban yang kala itu menjadi lahan subur bagi pencarian batin.

Shiddiqiyyah pada masa Abu Yazid bukanlah jalan yang menjauh dari kehidupan. Ia menjadi pilar spiritual masyarakat: menguatkan relasi manusia dengan Tuhan, sekaligus menata etika hidup bersama. Tasawuf hadir sebagai kesadaran kolektif, bukan sekadar laku individual.

Nama yang Tenggelam oleh Zaman

Namun sejarah jarang memberi ruang bagi keabadian nama. Setelah Abu Yazid wafat pada 874 M, Shiddiqiyyah memasuki fase perubahan administratif. Nama itu perlahan memudar, tergantikan oleh sebutan lain—sering kali mengikuti nama mursyid atau wilayah tempat ajaran berkembang.

Seorang ulama Irbil, Syekh Amin al-Kurdi, dalam Tanwirul Qulub, mencatat bahwa perubahan silsilah dan nama adalah keniscayaan lintas kurun. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Thoifur bin Isa (Abu Yazid), ia disebut Shiddiqiyyah. Setelahnya, nama itu bertransformasi: Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, Naqsyabandiyyah, dan seterusnya.

Perubahan yang berlapis selama berabad-abad membuat “Shiddiqiyyah” seakan menghilang dari ingatan publik—bukan karena ajarannya lenyap, melainkan karena namanya berasimilasi dengan dinamika zaman. Nilai tetap hidup, meski penandanya berubah.