Seskab Teddy Indra Wijaya menuai kritik usai menyebut penurunan korban di Gaza sebagai kemajuan, dituding menormalisasi genosida.


KOSONGSATU. ID – ​Sekretaris Kabinet (Seskab) Republik Indonesia, Teddy Indra Wijaya, baru-baru ini menyampaikan pembelaan terkait posisi pemerintah menyikapi krisis di Jalur Gaza. Ia menyoroti perjanjian diplomatik Sharm El-Sheikh yang diteken pada Oktober 2025 lalu.

Menurutnya, kesepakatan tersebut membuahkan hasil karena angka kematian turun drastis—dari 70.000 jiwa selama puncak serangan mematikan, menjadi sekitar 600 hingga 1.000 orang dalam enam bulan terakhir.

​Namun, alih-alih meredakan situasi, klaim ini justru memicu gelombang kritik dari para pengamat Timur Tengah yang menilai pemerintah mulai kehilangan kompas moral.

​Mereduksi Nyawa Menjadi Angka Statistik

​Pengamat Timur Tengah, Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat dan Shafa Kalila Aryanti, secara tajam mengkritik logika Seskab Teddy. Mereka menegaskan bahwa menyajikan penurunan jumlah korban sebagai sebuah “kemajuan” menetapkan standar moral yang sangat meresahkan.

​”Enam ratus kematian bukanlah bukti dari perdamaian. Enam ratus kematian berarti masih ada enam ratus warga Palestina yang terbunuh,” urai Zulfikar dan Shafa dalam artikel opini mereka di Middle East Monitor.

​Lebih lanjut, para kritikus berpendapat Teddy tanpa sadar mereduksi pembunuhan massal menjadi sekadar perbandingan statistik. Ketika kurva angka tersebut turun, kebijakan luar negeri seolah-olah dibingkai telah berhasil. Padahal, realitas kemanusiaan di Gaza menceritakan hal yang jauh berbeda: penderitaan masih menjerat setiap rumah tangga di Palestina.

Mereduksi kematian ini sama saja dengan menormalisasi kehancuran massal. Genosida tidak lantas bisa diterima hanya karena laju pembunuhannya melambat.

​Mengabaikan Akar Genosida dan Kedaulatan Palsu

​Selain persoalan statistik, Teddy juga berargumen bahwa kekerasan tidak dapat dunia hentikan secara instan. Ia mengisyaratkan bahwa masyarakat internasional harus menoleransi korban yang terus berjatuhan sementara proses diplomasi berjalan.