Bangsa yang abai kepada sastra mencetak birokrat kerdil.
KOSONGSATU.ID – Di Teheran, barangkali di sebuah kedai teh sederhana namun hangat, Divan karya Hafez bukan sekadar deretan rima. Ia adalah detak jantung. Ia adalah alasan mengapa diplomat Iran berani menatap mata dunia tanpa gentar.
Sastra memberi bentuk pada harga diri. Ketika sanksi ekonomi menjepit, bangsa Iran tak mudah retak karena mereka mengantongi “cadangan batin” yang melimpah dari Nizami hingga Firdawsi.
Lalu, kita menoleh ke cermin retak di rumah sendiri: Indonesia. Kita mewarisi I La Galigo yang melampaui epik Mahabharata, Serat Centhini yang begitu sublim, hingga navigasi jiwa dalam Syair Burung Pinggai karya Hamzah Fansuri.
Namun, di ruang-ruang kelas kita, mahakarya ini menjelma hantu. Sejarah kedigdayaan Nusantara merosot menjadi sekadar hafalan angka kering untuk ujian pilihan ganda.
Komparasi Ruang Kelas: Ruh Sastra vs Mesin Hafalan
Mari kita bedah kontras tajam sistem pendidikan kedua negara.
Di Iran, pemerintah meletakkan puisi sebagai napas kurikulum. Anak-anak sekolah menengah akrab membedah metafora para penyair sufi. Sastra mengajari mereka bahwa hidup adalah perlawanan yang bermartabat.
Menariknya, kedalaman ilmu humaniora ini justru memacu sains. Perempuan Iran kini mendominasi 70 persen lulusan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), membuktikan bahwa kemajuan teknologi bisa berakar kuat pada literasi.
Sebaliknya, kurikulum kita secara sistematis membunuh imajinasi dan menggantinya dengan teknokrasi dangkal. Sekolah mengajarkan tata bahasa layaknya rumus matematika yang kaku, bukan sebagai instrumen pengasah kepekaan nurani. Kita mendidik generasi muda menjadi sekrup patuh dalam mesin besar globalisasi, tanpa pernah tahu cara mengendalikan kemudi nasib mereka sendiri.
Krisis Pemimpin Tuna-Akar
Dampak dari matinya sastra sangat fatal. Sistem ini memproduksi birokrat dan diplomat “bermental kerupuk”. Mereka fasih merapal istilah investasi, namun gemetar di hadapan kuasa asing karena kehilangan akar budaya. Mereka memandang negara Barat sebagai majikan, bahkan rela membayar triliunan rupiah hanya agar pihak asing bersedia merumuskan harga diri kita.




Tinggalkan Balasan