Keringat Soekarno dan Mohammad Hatta tentu mengukir sejarah, tetapi fondasi spiritual bangsa ini tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.
KOSONGSATU.ID – Kemerdekaan Republik Indonesia tidak melulu berkisah tentang pekik kebebasan di Pegangsaan Timur atau dentuman meriam yang merobek langit Surabaya.
Di balik ingar-bingar revolusi fisik, terdapat ruang-ruang sunyi tempat para ulama merajut doa dan menyusun strategi.
Keringat Soekarno dan Mohammad Hatta tentu mengukir sejarah, tetapi fondasi spiritual bangsa ini tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari.Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini tidak sekadar duduk di pesantren.
Ia merumuskan waktu proklamasi, memantik nyali lewat Resolusi Jihad, hingga menuntun moral Sang Proklamator saat kapal besar bernama Indonesia baru saja berlayar.
Menentukan Hari Bersejarah Lewat Istikharah
Jauh sebelum membacakan teks proklamasi, Soekarno rupanya menyimpan keraguan mengenai waktu yang paling tepat. Mengirim utusan khusus, bapak bangsa itu mendatangi KH Hasyim Asy’ari untuk meminta petunjuk.
Menghadapi momen krusial ini, Sang Kiai tidak serta-merta memberi jawaban instan. Ia mengumpulkan para ulama untuk bermunajat dan melakukan salat istikharah demi mencari rida Sang Pencipta.
Hasil musyawarah spiritual itu membuahkan sebuah keputusan mantap. KH Hasyim Asy’ari menyarankan Soekarno memproklamasikan kemerdekaan pada hari Jumat di bulan Ramadan. Alasannya sangat mendasar secara teologis: Jumat merupakan sayyidul ayyam (penghulunya hari), sementara Ramadan adalah sayyidus syuhrur (penghulunya bulan).
Merespons saran tersebut, Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo segera menyusun naskah proklamasi pada dini hari 17 Agustus 1945 di kediaman Laksamana Maeda. Sayuti Melik kemudian mengetik naskah itu, sebelum akhirnya Soekarno membacakannya tepat pada Jumat, 9 Ramadan 1364 H. Sebuah kolaborasi apik antara pergerakan politik nasionalis dan kedalaman spiritual ulama.
Resolusi Jihad dan Neraka bagi Pasukan Sekutu
Euforia kemerdekaan rupanya hanya bertahan seumur jagung. Akhir September 1945, Pasukan Sekutu (AFNEI) mendarat di Jakarta, membawa serta ancaman kembalinya penjajahan Belanda. Menyadari ancaman mematikan ini, Bung Karno bersama Residen Jawa Timur Soedirman bertolak ke Pesantren Tebuireng untuk menemui Mbah Hasyim.




Tinggalkan Balasan