Kiai Hasyim memosisikan pemimpin bak seorang ayah yang mengayomi rakyat kecil dan menghargai rakyat menengah. Mendengar nasihat laksana air segar ini, Bung Karno merespons dengan doa yang menggetarkan sanubari.
“Ya Allah berilah aku kekuatan… Bila pimpinanku baik akan membawa manfaat. Tetapi, jika pimpinanku salah, maka pimpinan ini akan membawa melarat kepada 70 juta bangsaku,” panjat Sang Presiden.
Menyelamatkan Jantung Pancasila
Peran pamungkas Sang Kiai tampak nyata saat meredam potensi perpecahan bangsa terkait perumusan Piagam Jakarta. Kelompok Islam sempat bersikeras mempertahankan tujuh kata yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluknya. Menghadapi jalan buntu, Soekarno mengutus KH Wahid Hasyim untuk meminta fatwa dari ayahnya di Jombang.
Kiai Hasyim tidak gegabah. Beliau memahami bahwa kemerdekaan harus membawa maslahat, sedangkan perpecahan pasti membuahkan kerusakan (mafsadah). Setelah melakukan serangkaian tirakat, Kiai Hasyim menyimpulkan bahwa sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sejatinya sudah selaras dengan prinsip tauhid Islam. Ia menyarankan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus demi merawat persatuan. Ketegasan berbalut kelembutan ini akhirnya membuat seluruh elemen bangsa menerima Pancasila sebagai ideologi pemersatu yang sah.
Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah sekadar kado diplomasi atau murni hasil adu tembak di medan laga. Di balik tegaknya pilar Republik ini, mengalir doa yang tak putus, fatwa yang membakar heroisme, serta kebijaksanaan tingkat tinggi yang meredam ego golongan.
Melalui nasihat-nasihat emasnya, KH Hasyim Asy’ari telah menuntaskan tugas sejarahnya—bukan dengan berebut panggung kekuasaan, melainkan dengan menjadi kompas moral bagi Soekarno. Ia menjaga agar kapal besar bernama Indonesia tidak karam dihantam badai perpecahan. Kini, tugas kitalah untuk terus merawat warisan akal sehat dan persatuan yang telah beliau tanamkan sedari dulu.***
Sumber Rujukan:
- Irawan MN, Aguk. (2012). Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari.
- Welch, David. Birth of Indonesia.
- Donnison. The Fighting Cock.
- Kementerian Agama Bagian Penjiaran dan Penerangan Jogjakarta. (1947). Peringatan Konperensi Para Alim Ulama Seluruh Djawa dan Madoera.
- Taruna, Abdullah. (2010). “Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945”. NU Online (nu.or.id).
- Arsip kesaksian sejarah: Ki Setyo Oetomo Darmadi (Mantan Anggota BKR/RPKAD), KH Muchit Muzadi (Tokoh/Sesepuh NU), dan penelusuran sejarah Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon) yang dilansir melalui portal resmi Nahdlatul Ulama.



Tinggalkan Balasan