Percakapan bersejarah inilah yang melahirkan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Ki Setyo Oetomo Darmadi, mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan adik pahlawan PETA Soepriyadi, bersaksi betapa besarnya pengaruh fatwa ini. Ia menceritakan bahwa Kiai Hasyim meminta Bung Tomo berteriak Allahu Akbar lewat radio untuk menggerakkan para pemuda. Soekarno menemui Kiai Hasyim karena hampir seluruh komandan batalyon PETA saat itu adalah ulama.
Fatwa ini menyulut keberanian luar biasa yang memuncak pada Pertempuran 10 November 1945. Rakyat Surabaya bertempur layaknya mesin tanpa rasa takut. Sejarawan David Welch dalam bukunya Birth of Indonesia melukiskan kengerian pertempuran itu, menyebut para pejuang menyerang tank-tank Sherman berlapis baja hanya bermodalkan belati.
Sementara itu, KH Muchit Muzadi, sesepuh NU sekaligus saksi sejarah, menegaskan bahwa keberanian menyongsong maut itu berakar pada keyakinan utuh. “Kenapa berani mati? Karena mereka fanatik melbu suwargo (masuk surga), jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi,” ungkapnya. Pertempuran yang menewaskan Jenderal Mallaby ini pun mengubah Surabaya menjadi “neraka” bagi pasukan Sekutu.
Sebelas Nasihat Emas untuk Sang Presiden
Setelah badai pertempuran Surabaya perlahan mereda, tugas berat memimpin negara baru menanti Soekarno. Pada 14-15 Mei 1947, dalam Konferensi Para Alim Ulama se-Jawa dan Madura di Kediri, KH Hasyim Asy’ari menyampaikan pidato monumental berjudul “Hak dan Kewajiban Kepala Negara terhadap Rakyat dan Hak dan Kewajiban Rakyat terhadap Kepala Negara”.
Ayung Notonegoro, pendiri Komunitas Pegon dan peneliti sejarah NU, mencatat bahwa Kiai Hasyim memberikan sebelas panduan moral bagi seorang pemimpin. Beberapa poin krusial yang Kiai Hasyim tekankan mengharuskan kepala negara untuk menjaga agama Islam dan ketenteraman rakyat, menegakkan hukum dan keadilan, hingga mengasihi rakyat kecil sembari bersikap tegas pada pihak yang sewenang-wenang. Beliau juga mewanti-wanti Soekarno agar berhati-hati memilih menteri dan perantara birokrasi, memastikan mereka lurus hati agar terhindar dari manipulasi kekuasaan.
Kiai Hasyim memosisikan pemimpin bak seorang ayah yang mengayomi rakyat kecil dan menghargai rakyat menengah. Mendengar nasihat laksana air segar ini, Bung Karno merespons dengan doa yang menggetarkan sanubari.
“Ya Allah berilah aku kekuatan… Bila pimpinanku baik akan membawa manfaat. Tetapi, jika pimpinanku salah, maka pimpinan ini akan membawa melarat kepada 70 juta bangsaku,” panjat Sang Presiden.
Menyelamatkan Jantung Pancasila
Peran pamungkas Sang Kiai tampak nyata saat meredam potensi perpecahan bangsa terkait perumusan Piagam Jakarta. Kelompok Islam sempat bersikeras mempertahankan tujuh kata yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluknya. Menghadapi jalan buntu, Soekarno mengutus KH Wahid Hasyim untuk meminta fatwa dari ayahnya di Jombang.
Kiai Hasyim tidak gegabah. Beliau memahami bahwa kemerdekaan harus membawa maslahat, sedangkan perpecahan pasti membuahkan kerusakan (mafsadah). Setelah melakukan serangkaian tirakat, Kiai Hasyim menyimpulkan bahwa sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sejatinya sudah selaras dengan prinsip tauhid Islam. Ia menyarankan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus demi merawat persatuan. Ketegasan berbalut kelembutan ini akhirnya membuat seluruh elemen bangsa menerima Pancasila sebagai ideologi pemersatu yang sah.
Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah sekadar kado diplomasi atau murni hasil adu tembak di medan laga. Di balik tegaknya pilar Republik ini, mengalir doa yang tak putus, fatwa yang membakar heroisme, serta kebijaksanaan tingkat tinggi yang meredam ego golongan.
Melalui nasihat-nasihat emasnya, KH Hasyim Asy’ari telah menuntaskan tugas sejarahnya—bukan dengan berebut panggung kekuasaan, melainkan dengan menjadi kompas moral bagi Soekarno. Ia menjaga agar kapal besar bernama Indonesia tidak karam dihantam badai perpecahan. Kini, tugas kitalah untuk terus merawat warisan akal sehat dan persatuan yang telah beliau tanamkan sedari dulu.***
Sumber Rujukan:
- Irawan MN, Aguk. (2012). Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari.
- Welch, David. Birth of Indonesia.
- Donnison. The Fighting Cock.
- Kementerian Agama Bagian Penjiaran dan Penerangan Jogjakarta. (1947). Peringatan Konperensi Para Alim Ulama Seluruh Djawa dan Madoera.
- Taruna, Abdullah. (2010). “Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945”. NU Online (nu.or.id).
- Arsip kesaksian sejarah: Ki Setyo Oetomo Darmadi (Mantan Anggota BKR/RPKAD), KH Muchit Muzadi (Tokoh/Sesepuh NU), dan penelusuran sejarah Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon) yang dilansir melalui portal resmi Nahdlatul Ulama.




Tinggalkan Balasan