Belasan ribu sekolah di daerah 3T terpaksa menumpang ujian akibat minim fasilitas komputer dan jaringan. Ketimpangan digital pendidikan kembali tersingkap.


KOSONGSATU.ID—Disparitas infrastruktur pendidikan Indonesia kembali terlihat menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang sekolah dasar dan menengah. Di balik ambisi digitalisasi asesmen nasional, ribuan sekolah—terutama di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T)—masih bergulat dengan persoalan mendasar: ketiadaan laboratorium komputer dan akses internet memadai.

Data proyeksi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan sebanyak 11.119 satuan pendidikan akan berstatus menumpang pada pelaksanaan TKA bulan April mendatang. Angka tersebut setara dengan sekitar 4,47 persen dari total target peserta ujian nasional berbasis komputer.

Secara statistik, persentase itu mungkin terlihat kecil. Namun dalam konteks jumlah siswa dan sebaran geografis Indonesia yang luas, angka ini mencerminkan ribuan anak yang harus berpindah lokasi ujian—bahkan menempuh jarak puluhan kilometer—demi mengikuti asesmen standar nasional.

Ketimpangan Digital yang Nyata

Masalah utamanya klasik: banyak sekolah belum memiliki laboratorium komputer layak. Sebagian memiliki perangkat, tetapi spesifikasinya usang dan tidak mampu menjalankan aplikasi resmi ujian daring. Di beberapa daerah, komputer tersedia, tetapi jumlahnya jauh dari cukup untuk melayani seluruh siswa dalam satu sesi.

Keterbatasan tidak berhenti di perangkat keras. Kapasitas lebar pita internet menjadi kendala krusial. Di sejumlah wilayah, jaringan kerap terputus saat pengunduhan soal. Ada pula laporan gangguan sistem ketika ujian berlangsung.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Pendidikan beberapa tahun terakhir mencatat kesenjangan signifikan antara sekolah perkotaan dan pedesaan dalam kepemilikan fasilitas TIK. Sekolah di wilayah timur Indonesia dan kawasan 3T memiliki proporsi laboratorium komputer jauh lebih rendah dibandingkan sekolah di Pulau Jawa.