Kabar alat sadap buatan Israel beredar luas, tetapi polisi belum mengonfirmasinya. Mana yang terdokumentasi, mana yang masih klaim?
KOSONGSATU.ID – Pengamat teknologi informasi Heru Sutadi menyatakan sistem penyadapan sah seperti LIMS dapat berubah menjadi ilegal bila kontrol akses dan verifikasinya dilewati.
Pernyataan itu muncul ketika kabar perangkat buatan Israel beredar setelah Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang diberhentikan dari Kepala Staf Kepresidenan, ditetapkan sebagai tersangka.
Menurut laporan beberapa media, Polri disebut memakai spyware buatan Israel untuk menyadap Presiden Prabowo Subianto. Sebagian laporan menyebut Pegasus.
Salah satu laporan mengutip narasumber anonim yang menyebut alat itu pernah dipakai untuk kepentingan politik. Laporan tersebut tidak menunjukkan kontrak, log, atau dokumen lain.
Apa yang bisa diverifikasi?
Kabareskrim Komjen Asep Safrudin menyebut nomor-nomor diduga dimasukkan ke server Lawful Interception Management System (LIMS) tanpa verifikasi. Dugaan itu mencakup 2025 hingga Oktober 2026.
Menurut penjelasan teknis dalam pemberitaan, LIMS bekerja lewat jaringan operator seluler. Pegasus, sebaliknya, ditanam langsung di ponsel target. Keduanya teknologi berbeda.
Amnesty International menelusuri pengiriman teknologi pengawasan ke Indonesia pada 2017–2023 dalam laporan Mei 2024.
Produk Wintego Systems Ltd, perusahaan Israel, diduga dipasok ke Polri lewat dua perantara di Singapura.
Satu perantara tercatat mengirim produk bernama “WINT SYSTEM” ke Slog Polri pada September 2019, senilai sekitar USD 5,59 juta. Amnesty menduga produk itu buatan Wintego.
Angka Rp2 triliun per unit, yang disebut narasumber anonim tadi, tidak tampak dalam rangkuman laporan Amnesty yang dirujuk beberapa media.
IndonesiaLeaks pada 2023 mengindikasikan Pegasus dipakai sejumlah otoritas, termasuk Polri dan Badan Intelijen Negara.
Amnesty menyatakan belum bisa mengonfirmasi secara independen bahwa perangkat itu Pegasus. Sasarannya pun tidak teridentifikasi.
Apa yang belum terjawab?
Hingga Kamis (05/11) pagi, belum ditemukan keterangan resmi yang menyebut Wintego, Pegasus, atau perangkat buatan Israel lain dipakai menyadap Presiden.
Kaitan antara pembelian lama dan kasus ini baru sebatas urutan waktu. Belum ditemukan tanggapan Polri atas temuan Amnesty itu.
Motif ketiga tersangka juga belum diungkap. Bareskrim menyatakan peran masing-masing masih didalami.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Rabu (04/11), menyatakan Istana menunggu proses di kepolisian. Ia menyatakan, “Jadi kita tidak mengerti juga apa yang menjadi motif dan tujuannya.”***




Tinggalkan Balasan