Penguatan El Niño mengingatkan pentingnya ketahanan pangan, air, dan solidaritas desa untuk menghadapi tekanan iklim.

KOSONGSATU.ID — Kemarau panjang tidak hanya meninggalkan tanah retak dan sungai yang menyusut. Ketika panen terganggu dan air semakin sulit diperoleh, tekanan ikut masuk ke kehidupan keluarga.

Ancaman itu membayangi penguatan El Niño 2026. Perubahan suhu laut di Pasifik membawa perhatian kembali pada hubungan antara kondisi alam, kebutuhan hidup, dan ketahanan masyarakat.

NOAA melaporkan El Niño terus menguat pada Oktober. Anomali suhu permukaan laut melampaui empat derajat Celsius di sebagian Pasifik ekuatorial timur.

USGS menyebut peristiwa ini berpotensi menjadi sangat kuat, bahkan mungkin yang terkuat dalam lebih dari 150 tahun.

Di Indonesia, kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem bersinggungan dengan refleksi budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun tentang hubungan perubahan alam dan kehidupan sosial.

Dalam rekaman ceramah yang disebut berasal dari 2019, Cak Nun mengaitkan sejumlah periode El Niño dengan pergolakan sosial-politik Indonesia melalui pembacaan pola sejarah.

Uraian pandangannya dalam naskah ini merupakan parafrasa dari bahan awal. Tanggal, tempat, dan konteks lengkap ceramah tersebut belum terkonfirmasi melalui rekaman utuh.

Ketika Tekanan Alam Menjangkau Kehidupan Sosial

Dalam refleksi yang dikaitkan dengan ceramah tersebut, periode El Niño dibaca berdampingan dengan sejumlah pergolakan besar dalam sejarah Indonesia.

Rentang yang dibicarakan mencakup akhir 1950-an, pertengahan 1960-an, awal 1980-an, hingga 1997–1998. Perubahan alam menjadi latar untuk memahami kerentanan masyarakat pada masa sulit.

Pembacaan itu membawa perhatian pada satu persoalan mendasar: bagaimana masyarakat bertahan ketika tekanan datang bersamaan, dari alam maupun keadaan ekonomi.

Bagi petani, berkurangnya hujan dapat mengubah jadwal tanam dan memperbesar kebutuhan biaya. Bagi keluarga, gangguan produksi pangan dapat terasa melalui pengeluaran sehari-hari.

Ketika penghasilan menurun sementara kebutuhan tetap berjalan, ruang bertahan menjadi semakin sempit. Pada keadaan seperti itu, dukungan sosial dan kehadiran pemerintah semakin dibutuhkan.

Di sinilah pesan kewaspadaan memperoleh tempatnya. Perubahan cuaca perlu diikuti kesiapan menghadapi dampaknya terhadap pekerjaan, pangan, air, dan hubungan antarmasyarakat.

Refleksi tersebut juga dekat dengan ilmu titen, kebiasaan mengamati kejadian berulang sebagai bekal membaca keadaan dan menyiapkan langkah.

Pengamatan atas pengalaman masa lalu dapat memperkaya kesiapsiagaan ketika dipertemukan dengan informasi cuaca, kondisi pertanian, dan kebutuhan warga hari ini.

Pesan yang dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari ialah bersiap sebelum kesulitan meluas. Persediaan air, keberlanjutan pangan, dan kemampuan saling membantu menjadi perhatian bersama.

Membangun Ketahanan dari Desa

Desa menjadi salah satu tempat penting untuk memulai persiapan. Di sana, perubahan musim langsung berhubungan dengan sawah, kebun, sumber air, dan penghasilan warga.

Pemetaan kebutuhan dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: sumber air mana yang masih tersedia, lahan mana yang membutuhkan dukungan, dan keluarga mana yang paling rentan kehilangan nafkah.

Informasi itu dapat menjadi dasar pembagian air, penyesuaian kegiatan pertanian, serta penyaluran bantuan ketika kebutuhan meningkat.

Kemandirian pangan juga memerlukan kerja bersama. Lumbung desa, kebun keluarga, dan pengelolaan hasil pertanian dapat dikembangkan sesuai kemampuan serta kondisi setempat.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan warga memperoleh informasi cuaca yang mudah dipahami dan layanan dasar yang tetap berjalan.

Kesiapan menghadapi kemarau membutuhkan anggaran, pendampingan, serta koordinasi yang menjangkau warga sebelum keadaan memburuk.

Solidaritas sosial menjadi penguatnya. Hubungan yang terjaga memungkinkan masyarakat lebih cepat mengetahui tetangga yang kesulitan memperoleh air, pangan, atau penghasilan.

Dengan kesiapan tersebut, peringatan tentang perubahan alam dapat diterjemahkan menjadi tindakan: menjaga sumber air, memperkuat persediaan pangan, dan melindungi keluarga yang rentan.

El Niño tidak berada dalam kendali masyarakat. Namun, persiapan bersama memberi ruang lebih besar untuk menghadapi dampaknya dan menjaga kehidupan tetap berjalan.***