Rupiah ditutup melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.913 per USD pada Senin (12/10). Namun pada periode yang sama, cadangan devisa Indonesia masih tercatat setara pembiayaan 5,3 bulan impor — hampir dua kali lipat ambang aman internasional yang sebesar tiga bulan.
KOSONGSATU.ID — Mata uang itu dibuka pada Rp17.895 dan sempat menguat tujuh poin, sebelum berbalik arah. Sepanjang hari ia bergerak di rentang Rp17.879 hingga Rp17.929, menurut data Bloomberg yang dikutip IDN Times.
Pelemahan 0,08% dalam satu hari tergolong tertib untuk pekan yang dipenuhi kabar buruk dari luar negeri.
Tekanan yang datang dari luar
Pemberontak Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan ke bandara internasional Riyadh pada Sabtu (10/10), yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, termasuk serangan pesawat tanpa awak di dekat Sohar, Oman, turut mengangkat kecemasan atas pengapalan minyak dari Timur Tengah.
Dari jalur moneter, Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem menyatakan kebijakan moneter Amerika Serikat masih memerlukan pengetatan agar inflasi kembali ke sasaran. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan bila data mendukungnya.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih dibentuk ketidakpastian geopolitik global. Ia memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per USD pada Selasa (13/10).
Tiga bantalan yang menahan
Cadangan devisa akhir September 2026 tercatat USD146,3 miliar (sekitar Rp2.620 triliun pada kurs 12 Oktober), menurun tipis 0,14% dari USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Posisi itu setara pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, menurut data Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada 7 Oktober 2026.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan cadangan devisa tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Dari sisi harga, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30% secara bulanan dan 3,28% secara tahunan, dengan Indeks Harga Konsumen yang bergerak dari 108,74 menjadi 112,31.
“Secara year on year pada September 2026 terjadi inflasi sebesar 3,28%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers pada 1 Oktober 2026.
Angka itu masih berada di dalam sasaran BI, sehingga bank sentral memiliki ruang mempertahankan BI-Rate pada 4,75% meski Federal Reserve mengirim sinyal sebaliknya.
“Kita tetap optimis melihat ekonomi kita ini. Kami akan all out menjaga stabilitas dari nilai tukar kita,” kata Gubernur BI Destry Damayanti pada Rapat Dewan Gubernur, 23 September 2026.
Destry menyebut bauran kebijakan itu tidak bertumpu pada suku bunga semata. BI juga memangkas premi Swap Jual Lindung Nilai, Swap Beli Lindung Nilai, dan Domestic Non-Deliverable Forward, serta memperluas cakupannya hingga pinjaman bank luar negeri dan investasi asing langsung.
Yang masih perlu diwaspadai
Faktor domestik yang dicatat pasar pada 12 Oktober adalah penantian putusan MSCI atas status pasar saham Indonesia.
Lembaga penyusun indeks itu mempertahankan Indonesia di kategori pasar berkembang (emerging market) pada Juni 2026, tetapi menetapkan tenggat reformasi hingga November 2026 dan menghapus sepuluh saham dari indeksnya per September 2026. Skenario penurunan ke pasar perbatasan (frontier market) sempat dikaitkan dengan risiko arus keluar modal sekitar USD13 miliar (sekitar Rp233 triliun).
Inflasi 3,28% juga merupakan yang tertinggi sepanjang 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 1,28 poin persentase di antaranya, didorong ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Manten Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya pernah menilai tekanan rupiah lahir dari persepsi pasar, bukan cermin fondasi ekonomi, dalam pernyataannya pada Mei 2026.***




Tinggalkan Balasan