Pemilihan Grobogan sebagai tuan rumah Tasyakuran Tahun Baru Hijriah 1448 H disebut menyimpan keterkaitan sejarah antara keluarga Soekarno dan Fatmawati.

KOSONGSATU.ID —  Tarekat Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi mengungkap hikmah di balik terpilihnya Kabupaten Grobogan sebagai tuan rumah Silaturahmi dan Tasyakuran Tahun Baru Hijriah (TTBH) ke-24 pada 1448 Hijriah.

Dalam mauizah hasanah atau pesan kebaikan di Gedung Serbaguna Dewi Sri, Purwodadi, Grobogan, Minggu, 12 Juli 2026, ia mengaitkan Grobogan dengan Bengkulu, lokasi penyelenggaraan TTBH sebelumnya, melalui sejarah Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati.

“Jadi semua ini tersambung antara Bengkulu dengan Purwodadi. Inilah hikmahnya,” kata Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Ia membuka ceramah dengan mengutip Surah Al-Qashash ayat 68 yang menyebut Allah menciptakan dan memilih segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Menurut dia, pilihan Allah lebih utama dan lebih bermanfaat daripada pilihan manusia. Karena itu, terpilihnya Grobogan sebagai tuan rumah tidak perlu dipertanyakan, melainkan dicari hikmah yang menyertainya.

Jejak Soekarno dan Fatmawati

Sang Mursyid menjelaskan ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, berasal dari Wirosari, Grobogan. Adapun Fatmawati berasal dari Bengkulu dan dikenal sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi Kemerdekaan.

Keterkaitan sejarah itulah yang, menurut dia, mempertemukan Bengkulu dan Grobogan dalam rangkaian Tasyakuran Tahun Baru Hijriah Shiddiqiyyah.

Ia juga mengingatkan jasa Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Fatmawati sebagai Ibu Negara pertama sekaligus tokoh perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa.

“Kemudian Soekarno dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator. Ibu Fatmawati, Ibu Negara pertama, dijuluki pahlawan pergerakan Indonesia. Ini ibu pahlawan sejati, Ibu Fatmawati,” ujarnya.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Jam’iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) dan dihadiri warga Shiddiqiyyah dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan dari Malaysia.

Acara mengusung tema “Gemolongnya Api Jati Diri Bangsa Indonesia dari Bumi Purwodadi” sebagai penguat semangat kebangsaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial.