Abu Bakar dan Umar pernah sengaja tidak berkurban. Sebuah pesan sunyi agar ibadah tidak berubah menjadi beban gengsi sosial.


Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuId

Pernahkah Anda membayangkan dua tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam, yang hartanya berlimpah, justru memilih tidak menyembelih hewan kurban saat Iduladha tiba?

​Fakta ini mungkin terdengar asing bagi telinga umat Muslim modern. Namun, sejarah mencatat dengan jelas bahwa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab kadang sengaja melewatkan ibadah kurban. Padahal, mereka sangat mampu membelinya.

​Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan As-Shughra menukil riwayat dari Abu Sarihah. Ia bersaksi melihat Abu Bakar dan Umar tidak berkurban. Al-Baihaqi kemudian mengungkap alasan di balik sikap ganjil tersebut: mereka khawatir masyarakat akan meniru, lalu menganggap kurban sebagai sebuah kewajiban mutlak.

​Pesan Sunyi dari Dua Sahabat Utama

​Langkah dua sahabat Nabi ini merupakan strategi dakwah yang sangat halus namun presisi. Mereka amat memahami psikologi massa. Jika para pemimpin selalu berkurban setiap tahun tanpa jeda, masyarakat awam perlahan akan meyakini bahwa ibadah tersebut berdosa jika ditinggalkan.

​Imam Syafi’i menangkap pesan sunyi ini. Beliau menjadikan riwayat tersebut sebagai fondasi argumentasi dalam mazhabnya. Imam Syafi’i menegaskan bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah, bukan wajib.

​Artinya, kurban sangat dianjurkan. Seseorang berstatus makruh jika meninggalkannya padahal ia mampu. Namun, ia sama sekali tidak menanggung dosa. Pandangan ini sejalan dengan mayoritas ulama dari Mazhab Maliki dan Hanbali. Tercatat, hanya Mazhab Hanafi yang mewajibkan kurban bagi mereka yang berharta.

​Mu’taz al-Duri dalam risalahnya, Al-Khulashah fi Ahkam al-Udhiyah, juga menuliskan hal serupa dengan sangat gamblang. Kurban adalah sunnah muakkadah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Lebih utama dari sedekah biasa, namun tetap berada dalam koridor anjuran.

​Gengsi Sosial di Balik Spanduk Panitia

​Kini, mari kita tarik napas dan melihat realitas Iduladha di sekitar kita hari ini. Suasananya sudah jauh bergeser.