Eksistensi ISNU bawa harapan besar. Namun, mampukah ia menjaga nalar kritis dan tak terjebak sekadar menjadi pemburu proyek?

Eksistensi Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) di panggung nasional patut terus kita dorong dengan optimisme. Organisasi ini bukan sekadar etalase berkumpulnya para sarjana, melainkan memikul tanggung jawab besar sebagai motor penggerak kekuatan intelektual bangsa.
Namun, layaknya sejarah banyak pergerakan di negeri ini, berkumpul dan memiliki struktur kepengurusan saja tidak cukup. Hal yang jauh lebih menentukan adalah ke mana arah kapal besar intelektual ini berlabuh.
Ancaman Pragmatisme Internal
Di tengah upaya memperkokoh “rumah besar kaum intelektual Nahdliyin”, terselip tantangan struktural yang rumit. Ancaman terbesarnya justru tidak datang dari luar, melainkan dari dalam tubuh organisasi itu sendiri.
ISNU menghadapi godaan besar untuk bergeser dari poros gerakan pemikiran menjadi sekadar pelaksana program. Kita patut waspada saat niat luhur menjadi produsen gagasan luntur menjadi sekadar pemburu proyek di kementerian atau lembaga negara.
Jargon seperti “mitra strategis pemerintah”, “pendampingan pembangunan nasional”, hingga “solusi berbasis akademik” memang terdengar mulia. Namun, tanpa pilar disiplin intelektual yang kuat, frasa-frasa tersebut berpotensi berubah menjadi pintu masuk pragmatisme elite.
Akibatnya, organisasi yang seharusnya menuntun arah kebijakan publik justru berisiko terseret arus kepentingan politik praktis.
Menjaga Jarak Sehat dan Nalar Kritis
Di sinilah wibawa dan ujian sejati ISNU bermula. Publik secara nasional tidak mengukur kualitas organisasi intelektual dari seberapa sering pemerintah pusat melibatkannya dalam berbagai program kerja. Publik menilai dari seberapa tangguh organisasi tersebut menjaga independensi berpikir.
ISNU tidak hadir untuk sekadar menyenangkan para pemegang kekuasaan, melainkan menerangi arah kebijakan negara menggunakan nalar dan nilai universal. Organisasi ini tidak punya kewajiban untuk selalu sejalan dengan pemerintah, tetapi wajib bersikap jujur kepada umat.




Tinggalkan Balasan