Semangat KAA 1955 teguhkan diplomasi RI bela Palestina dan dorong deeskalasi konflik Iran-Israel di Timur Tengah.


KOSONGSATU. ID – Hari ini, 18 April 2026 bertepatan dengan Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Pemerintah Indonesia menegaskan kembali komitmennya terhadap nilai-nilai perdamaian kawasan.

Kementerian Luar Negeri RI memastikan prinsip-prinsip tersebut tetap menjadi panduan utama dalam menyikapi berbagai konflik global, mulai dari isu kemerdekaan Palestina hingga ketegangan geopolitik terbaru di Timur Tengah.

​Perdebatan Awal dan Solidaritas Asia-Afrika

Jauh sebelum KAA berlangsung di Bandung, nasib bangsa Palestina telah menjadi sorotan utama negara-negara berkembang. Indonesia dan Pakistan menunjukkan sikap tegas menentang agresi Israel sejak Konferensi Kolombo pada 1954. Kedua negara memandang konflik ini sebagai bagian dari praktik kolonialisme yang mengancam kawasan Asia dan Afrika.

​Perdebatan tajam sempat mewarnai persiapan Konferensi Bogor terkait rencana mengundang Israel. Indonesia dan Pakistan kukuh menolak kehadiran delegasi Israel. Di sisi lain, Burma dan India menunjukkan sikap berbeda karena pertimbangan hubungan politik, ekonomi, serta kekhawatiran absennya negara-negara Arab. Melalui proses negosiasi yang alot, negara-negara peserta akhirnya sepakat tidak mengundang Israel ke ajang KAA 1955.

​Kutukan terhadap Imperialisme

Dalam forum KAA, Presiden Soekarno berpidato lantang menyoroti nasib bangsa Palestina. Ia mengingatkan para delegasi bahwa sikap anti-kolonialisme, anti-rasialisme, dan hasrat mewujudkan perdamaian dunia merupakan fondasi utama solidaritas Asia-Afrika.

Soekarno menyebut imperialisme sebagai garis hidup yang membentang dari Selat Gibraltar, Laut Mediterania, Terusan Suez, hingga Samudra Hindia.

​Sikap ini mendapat dukungan luas. Perdana Menteri China, Zhou Enlai, turut mendukung negara-negara Arab dan menolak keras intervensi asing di tanah Palestina.

Melalui berbagai diskusi komite politik, konferensi akhirnya menyepakati bahwa isu Palestina merupakan krisis kemanusiaan yang mendesak dan menuntut penyelesaian segera.

​Refleksi KAA dalam Pusaran Konflik Iran dan Poros AS-Israel

Ketegangan geopolitik Timur Tengah modern, khususnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan poros Amerika Serikat-Israel, memberikan relevansi baru bagi nilai-nilai sejarah tersebut. Jika pada tahun 1955 negara-negara Asia-Afrika bersatu melawan kolonialisme fisik, tantangan hari ini berwujud ancaman hegemoni militer dan intervensi asing di kawasan berdaulat.