Badan iklim dunia melihat peluang El Nino kembali muncul pada 2026. Jika menguat, suhu global bisa terdorong lagi dan melampaui rekor panas yang tercipta pada 2024.
KOSONGSATU.ID – Fenomena El Nino diperkirakan kembali berkembang pada paruh kedua 2026, setelah kondisi iklim global kini berada di fase netral. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA menyebut El Nino kemungkinan muncul pada Climate Prediction Center dan bertahan setidaknya hingga akhir tahun.
Layanan iklim Uni Eropa, Copernicus, juga membaca arah serupa. Dalam prakiraan musiman terbarunya, seluruh komponen model C3S terus menunjukkan perkembangan El Nino yang kemungkinan mencapai level sedang hingga kuat menjelang akhir 2026.
Belum Pasti Super Kuat
Meski demikian, ancaman El Nino “super kuat” belum bisa dipastikan. NOAA menegaskan bahwa peluang anomali Niño-3.4 yang menembus 2 derajat Celsius masih sekitar 25 persen, dan sangat bergantung pada kelanjutan anomali angin di Samudra Pasifik beberapa bulan ke depan.
Secara ilmiah, El Nino terjadi saat suhu muka laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur menghangat di atas normal. Ambang dasarnya 0,5 derajat Celsius, sementara kategori kuat umumnya berada di atas 1,5 derajat Celsius.
Profesor meteorologi Universitas Northern Illinois Victor Gensini mengatakan, “El Nino yang kuat berpotensi mendorong suhu global ke level rekor baru pada akhir 2026 dan berlanjut hingga 2027,” sebagaimana dikutip AP pada 9 April 2026.
Laut Hangat, Risiko Meningkat
Sinyal pemanasan itu kian mendapat perhatian karena laut dunia juga masih sangat hangat. Copernicus melaporkan, Maret 2026 menjadi Maret terpanas keempat secara global, dengan suhu 1,48 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Suhu permukaan laut pada bulan Maret juga kembali mendekati rekor, memperkuat indikasi pergeseran menuju El Nino.
Konteks fenomena ini tak bisa dilepaskan dari krisis iklim. Copernicus mencatat 2024 tetap menjadi tahun terpanas yang pernah direkam, sedangkan 2025 menempati urutan ketiga. Artinya, bila El Nino benar-benar menguat, ia akan bekerja di atas dasar bumi yang memang sudah lebih panas akibat emisi gas rumah kaca.




Tinggalkan Balasan