Deburan ombak Palabuhanratu memikat hati Sukarno untuk membangun peradaban maritim dan merajut mimpi besar Indonesia.Mimpi besar Bung Karno tersebut nyatanya tidak berawal dari ruang hampa. Ia berpijak pada sisa-sisa kejayaan masa lalu sebuah teluk yang pesonanya pernah membius para pelaut dan kaum elite Eropa.
KOSONGSATU. ID – Pesisir Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, bukan sekadar hamparan pasir dan deburan ombak yang menghantam tebing karang. Di balik keelokan lanskap alamnya, kawasan selatan Jawa ini menyimpan kepingan sejarah yang berkelindan erat dengan sang Proklamator, Ir. Soekarno.
Bung Karno tidak hanya melihat tempat ini sebagai lokasi peristirahatannya, tetapi sebagai panggung besar untuk menegaskan identitas maritim bangsa Indonesia.
Jejak Wijnkoopsbaai dan Ambisi Gentisville yang Kandas
Jauh sebelum Bung Karno menjejakkan kakinya di sini, dunia internasional telah mengenal Palabuhanratu sejak pembukaan jalur perdagangan global sekitar tahun 1858–1859. Para pelaut dan pedagang Eropa era kolonial kerap menjuluki kawasan teluk ini dengan nama Wijnkoopsbaai atau Teluk Pedagang Anggur.
Irman Firmansyah, pengamat sejarah sekaligus Ketua Yayasan Dapuran Kipahare, menjelaskan bahwa nama Wijnkoopsbaai merujuk pada nama seorang pedagang Belanda. “Penamaan Wijnkoopsbaai mengambil dari nama pedagang Belanda, Jan Jacobz Wijncoop, yang menjalankan bisnis anggur semasa VOC berkuasa pada 1626,” ungkap penulis buku Soekaboemi The Untold Story tersebut.
Meskipun peneliti seperti Adolphe Guillaume Voderman menyebut istilah itu berasal dari kebiasaan lokal memanen tuak pohon kelapa (wijn berarti tuak/arak), kawasan ini telanjur tumbuh menjadi pelabuhan sibuk penghasil gula dari wilayah Jampang.
Memasuki tahun 1900, seorang mantan perwira Angkatan Laut Belanda bernama Reneke Adrian Eekhout Jr. mencoba mengubah wajah Palabuhanratu. Ia menggandeng Firma Gentis & Co milik Herman dan Cornelis Marius Gentis untuk membangun mega-proyek kota resor internasional bernama Gentisville. Vila-vila mewah, hotel, dan ruang biliar sempat berdiri megah untuk memikat kaum elite Hindia Belanda.
Namun, takdir berkata lain. Kebakaran hebat melanda Gentisville pada Agustus 1902 dan menghanguskan seluruh fasilitas tersebut. Menurut Irman Firmansyah, kehancuran proyek ini memicu keputusasaan Gentis bersaudara hingga nekat merampok De Javasche Bank di Batavia demi menutupi utang. Pelarian mereka berakhir tragis di tangan kepolisian kolonial, dan impian Gentisville pun terkubur menjadi puing.
Tafsir Atlantis dan Rahasia “Kawin” dengan Laut
Kelesuan ekonomi pasca-runtuhnya Gentisville berubah total ketika Indonesia merdeka. Bung Karno, yang pernah singgah di Palabuhanratu pada tahun 1938 untuk memulihkan diri dari sakit saat menjadi tahanan politik, kembali lagi ke teluk ini dengan visi yang jauh lebih revolusioner. Bagi Soekarno, Palabuhanratu adalah simbol mistis sekaligus geopolitis yang kuat.
Bung Karno kerap mengaitkan mitos penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, dengan konsep kekuasaan maritim yang nyata. Ia bahkan menyandingkan kisah tenggelamnya kerajaan nusantara kuno matriarkal, Nusa Tembini, dengan teori barat mengenai benua Atlantis yang hilang di samudera luas. Namun, Bung Karno menolak membiarkan narasi ini berhenti sebagai takhayul belaka.
Dalam pidatonya di hadapan para panglima ALRI dan Musyawarah Nasional Maritim tahun 1963, Bung Karno menegaskan bahwa cerita Nyi Roro Kidul merupakan sebuah simbolisme politik yang sangat dalam.
“Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Loro Kidul. Jikalau negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawin juga dengan laut,” tandas Soekarno.
Melalui metafora tersebut, ia menyerukan agar bangsa Indonesia kembali menguasai samudera dan terlahir kembali sebagai bangsa maritim yang disegani dunia.
Diplomasi Tukar Guling di Atas Tebing Tenjo Resmi
Guna mewujudkan obsesi maritimnya, Bung Karno mendirikan sebuah istana pesanggrahan yang megah tepat di bibir Pantai Citepus pada awal dekade 1960-an. Bangunan eksotis di atas tebing karang ini sekarang bernama Pesanggrahan Tenjo Resmi atau Istana Presiden Palabuhanratu.
Menariknya, lahan strategis seluas 1.500 meter persegi itu awalnya merupakan aset pribadi milik seorang perwira militer, Mayor Mantiri, yang berdiri sebuah vila bernama Vaya con Dios. Bung Karno jatuh hati pada pandangan pertama terhadap lokasi tersebut dan menjulukinya Cliff House (Rumah di Tebing). Karena Mayor Mantiri enggan menjualnya karena telanjur cinta, Bung Karno menawarkan kesepakatan tukar guling yang adil.
Irman Firmansyah mengonfirmasi proses diplomasi yang tulus ini. “Bung Karno tidak kehabisan akal, dia membeli lahan sebelah yang lahannya lebih luas untuk ditukar-guling dengan Mayor Mantiri. Akhirnya lahan diberikan setelah Mayor Mantiri merasa Bung Karno sungguh-sungguh tulus menginginkan tempat ini,” tutur Irman. Lahan pengganti tersebut kelak berkembang menjadi kawasan perhotelan Karang Pamulang.
Bung Karno kemudian menunjuk dua arsitek legendaris Indonesia, F.S. Silaban dan R.M. Soedarsono, untuk merancang Pesanggrahan Tenjo Resmi. Dari depan, istana ini tampak seperti bangunan satu lantai yang bersahaja. Namun jika kita melihatnya dari arah laut, bangunan ini memiliki tiga tingkatan yang megah.
Tempat favorit Bung Karno berada di lantai dua, sebuah ruangan dengan dinding kaca lebar yang menjorok langsung ke laut. Di sana, sang Proklamator kerap menghabiskan sore hari sembari memandangi matahari terbenam yang jatuh sempurna di cakrawala teluk. Keindahan ruangan ini tetap terjaga hingga generasi presiden berikutnya; bahkan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kaca ikonik tersebut diganti menggunakan material anti-peluru demi keamanan kepala negara.
Mimpi Las Vegas yang Kandas di Kamar Kasino
Langkah ambisius Bung Karno tidak berhenti pada pembangunan istana. Hanya sepelemparan batu dari Tenjo Resmi, ia membangun Samudra Beach Hotel (SBH) menggunakan dana pampasan perang Jepang sebesar Rp660 miliar pada tahun 1962. Hotel modern berlantai delapan ini menyimpan rencana rahasia yang sangat berani: Soekarno ingin menjadikannya pusat perjudian internasional legal demi mendongkrak taraf hidup masyarakat lokal.
Terinspirasi dari pesatnya pertumbuhan ekonomi Las Vegas di Amerika Serikat, Bung Karno meminta perancang interior asal Jepang menyediakan sebuah ruangan kasino seluas 20 x 8 meter di lantai delapan yang dinamakan Domino Room. Soekarno bahkan berencana membangun pelabuhan khusus kapal pesiar mewah untuk mengangkut para penjudi kaya dari berbagai belahan dunia.
Akan tetapi, angan-angan Bung Karno memicu gelombang protes keras. Kalangan ulama setempat bersama aktivis Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia (Gasbiindo) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) menentang keras legalisasi perjudian tersebut. Menanggapi gejolak sosial dan situasi politik dalam negeri yang kian memanas, Bung Karno akhirnya mengalah. Ia membatalkan izin kasino melalui Keputusan Presiden Nomor 133 Tahun 1965 yang melarang lotre buntut dan perjudian sejenisnya sebagai tindakan subversi.
Hingga hotel tersebut diresmikan pada 15 Februari 1966, Domino Room tidak pernah berfungsi sebagai kasino, melainkan hanya ruang hiburan biasa. Meski mimpi kasino kandas, SBH tetap melegenda, terutama lewat keberadaan Kamar 308 yang dikeramatkan sebagai ruang meditasi khusus bagi Nyi Roro Kidul.
Nasib Sang Cliff House dan Karang Pamulang Hari Ini
Hari ini, Pesanggrahan Tenjo Resmi masih berdiri kokoh dengan statusnya sebagai aset kepresidenan yang dirawat dengan sangat ketat. Sejumlah presiden pasca-reformasi, seperti Megawati Soekarnoputri hingga Joko Widodo, tercatat pernah singgah dan bermalam di sana untuk menikmati ketenangan yang sama seperti yang dirasakan Bung Karno dahulu.
Sebaliknya, nasib memprihatinkan justru menimpa lahan hasil tukar guling di Pantai Karang Pamulang, tempat berdirinya Hotel Bunga Ayu yang dikelola oleh Yan Bastian (Opung). Kawasan yang pada era 1990-an sempat menjadi surga bagi para peselancar internasional asal Jepang ini kini mengalami kerusakan ekologis yang parah.
Kegagalan proyek pembangunan Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) pada tahun 2015 menyisakan tumpukan beton pemecah ombak (breakwater) yang terbengkalai. Dampaknya, sedimentasi pasir masif mengubur garis pantai yang dulunya indah. Air laut terpaksa menjauh, digantikan semak belukar yang gersang dan merusak ekosistem pesisir. Tingkat kunjungan hotel menurun drastis, menyisakan pemandangan perahu nelayan yang membusuk di atas daratan baru tersebut.
Kisah Palabuhanratu hari ini adalah sebuah ironi sejarah yang tajam. Sebuah kawasan yang lahir dari visi besar kemandirian pariwisata dan kejayaan maritim sang Proklamator, kini harus berjuang keras melawan dampak pembangunan infrastruktur yang kurang terencana, demi menyelamatkan sisa-sisa jati diri indahnya.***
Daftar Rujukan
- Firmansyah, Irman. (2018). Soekaboemi The Untold Story: Menyingkap Sejarah yang Terlupakan. Sukabumi: Yayasan Dapuran Kipahare.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Profil Cagar Budaya: Pesanggrahan Tenjoresmi (Istana Palabuhanratu). Diakses melalui situs resmi Direktorat Pelindungan Kebudayaan (kebudayaan.kemdikbud.go.id).
- Soekarno. (1959). Pidato Pelantikan Kepala Staf Angkatan Laut R.E. Martadinata, 17 Juli 1959. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
- Soekarno. (1963). Amanat Presiden Soekarno pada Musyawarah Nasional Maritim, 23 September 1963. Jakarta: Departemen Penerangan RI.
- Van Till, Margreet. (2011). Banditry in West Java 1869-1942. Amsterdam: Amsterdam University Press.
- Surat Kabar Kolonial. Bataviaasch Nieuwsblad dan Soerabajasch Handelsblad edisi November-Desember 1902. Koleksi Digital Delpher Books & Newspapers.






Tinggalkan Balasan