Majelis Pakar Iran gelar sidang darurat usai tewasnya Ali Khamenei demi tunjuk pemimpin tertinggi baru.
KOSONGSATU.ID–Republik Islam Iran tengah berada di persimpangan sejarah paling menentukan dalam 45 tahun terakhir. Wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 telah memicu transisi kekuasaan darurat.
Negara ini kini menghadapi urgensi pergantian kepemimpinan di tengah eskalasi konflik regional yang memanas.
Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, kekosongan kekuasaan sementara telah diambil alih oleh Dewan Kepemimpinan transisi. Dewan ini secara resmi diisi oleh tiga tokoh utama, yaitu Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan perwakilan Dewan Wali Alireza Arafi.
Televisi Nasional Iran secara resmi mengumumkan kematian sang pemimpin pada 1 Maret 2026. Pengumuman ini langsung ditindaklanjuti dengan instruksi pelaksanaan sidang darurat tanpa penundaan bagi Majelis Pakar pada 1 hingga 2 Maret 2026.
Syarat Mutlak 59 Suara
Tugas maha berat kini murni berada di pundak Majelis Pakar (Assembly of Experts). Sebanyak 88 ulama Syiah senior yang duduk di dalam majelis tersebut memiliki kewenangan penuh secara konstitusional untuk memilih penerus tampuk kekuasaan. Mereka membutuhkan setidaknya 59 suara yang merupakan ambang batas mayoritas absolut untuk memenangkan seorang kandidat.
Dari berbagai sesi rahasia yang telah digelar sejak awal 2024, nama Mojtaba Khamenei muncul sebagai kandidat paling potensial. Pria berusia 56 tahun ini diuntungkan oleh situasi tak terduga pada 19 Mei 2024 silam. Kala itu, Presiden Ebrahim Raisi, yang sebelumnya dipersiapkan teguh sebagai penerus utama, tewas dalam kecelakaan helikopter.
Kematian Raisi praktis menyingkirkan hambatan terbesar bagi Mojtaba di bursa suksesi. Lembaga think-tank independen Council on Foreign Relations (CFR) menegaskan konstelasi ini dalam laporannya pada Februari 2026.
”Sampai kematiannya dalam kecelakaan helikopter Mei 2024, Presiden Ebrahim Raisi diposisikan sebagai kandidat pro-kemapanan. Satu-satunya pesaing kuat lainnya yang tersisa adalah Mojtaba Khamenei,” tulis laporan resmi CFR tersebut.




0 Komentar