Di mata rakyat jelata awal abad ke-20, H.O.S. Tjokroaminoto bukan sekadar pemimpin Sarekat Islam, melainkan harapan yang menjelma—seorang tokoh yang oleh banyak orang diyakini sebagai Ratu Adil yang lama dinanti.

KOSONGSATU.ID—Pada masa ketika penjajahan Belanda menekan kehidupan ekonomi dan martabat pribumi, nama Tjokroaminoto bergema jauh melampaui batas organisasi. Ia hidup di tengah rakyat, berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, dan menyuarakan keadilan di saat keadilan terasa mustahil. Tak mengherankan jika pengaruhnya meluas ke ranah yang lebih simbolik: mitos, kepercayaan, dan harapan kolektif.

Sejarawan Belanda, Korver, dalam bukunya Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil? (1985), merekam suasana luar biasa ketika Tjokroaminoto menghadiri pertemuan Sarekat Islam di Situbondo. Sekitar 7.000 anggota SI dan lebih dari 20.000 warga berdesakan hanya untuk melihatnya. Mereka berebut mencium tangan, bahu, tepi jas, bahkan kaki—sebuah ekspresi keyakinan bahwa di hadapan mereka berdiri “Sang Juru Selamat”, “Raja Jawa pilihan rakyat yang baru”. Banyak yang bersumpah tak akan pulang sebelum menyaksikan Tjokro dengan mata kepala sendiri, dan mereka menunggu dengan sabar, seolah waktu berhenti demi satu sosok.

Di puncak popularitasnya, Tjokroaminoto bahkan dijuluki Heru-Tjokro. Istilah ini merujuk pada tradisi Jawa tentang Ratu Adil, figur mesianik yang dipercaya akan membebaskan tanah Jawa dari penderitaan dan penjajahan. Nama itu berakar dari gelar Pangeran Diponegoro—Sultan Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukminin Sayidin Panatagama Kalifatul Rasul Tanah Jawa—yang dalam ingatan kolektif rakyat menjadi simbol perlawanan dan pembebasan. Dalam imajinasi rakyat, Tjokro adalah kelanjutan dari garis sejarah itu.

Ekspektasi pun meninggi. Masyarakat melihat Tjokro bukan hanya sebagai pemimpin politik, melainkan sosok dengan karomah, kelebihan yang melampaui manusia biasa. Ketika ia berpidato, rakyat menyimak dengan hening. Setelahnya, mereka berebut menyalaminya, menyentuh pakaiannya, seolah kebenaran mengalir dari tubuhnya. Suara baritonnya yang khas, gaya bicaranya yang bersemangat, serta kata-katanya tentang keadilan dan kebenaran menyebar cepat dari mulut ke mulut. Ia muncul atas nama Islam—agama yang dalam tradisi eskatologisnya mengenal figur Imam Mahdi. Di mata sebagian orang, “yang ditunggu itu telah datang, dan namanya Cokro.”

Namun justru di titik inilah watak Tjokroaminoto tampak berbeda. Alih-alih memelihara mitos demi memperbesar pengaruh, ia menolaknya dengan tegas. Dalam Kongres Nasional Pertama Sentral Sarekat Islam di Bandung, ia secara terbuka membantah anggapan bahwa dirinya adalah Ratu Adil seperti yang diramalkan Jangka Jayabaya. Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara mencatat dalam Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Tjokro justru mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak akan turun dari langit, melainkan harus diperjuangkan melalui kerja keras, kesadaran, dan organisasi.

Di sinilah perbedaan mendasar antara milenarisme politik Eropa abad pertengahan dan “milenarisme ala Tjokro”. Jika di Eropa pemujaan tokoh sering berujung pada pasivitas massal, Tjokro mengarahkan harapan rakyat ke kerja politik nyata. Ia memahami bahwa pemujaan adalah bahasa protes masyarakat di bawah penjajahan Belanda, tetapi ia memilih mengubah energi itu menjadi gerakan terorganisasi. Barangkali karena itulah langkah hidupnya sering tampak “tidak normal” bagi zamannya: lahir dari keluarga priyayi yang mapan, ia justru meninggalkan kenyamanan demi hidup di tengah pergulatan rakyat. Dari sanalah gelar “Raja Jawa” menemukan maknanya—bukan raja bermahkota, melainkan pemimpin moral.