Di balik lahirnya nasionalisme Indonesia modern, tersimpan satu simpul intelektual tempat para tokoh besar Islam dan kebangsaan saling berjumpa, berdialog, dan saling membentuk.

KOSONGSATU.ID—Jejak itu menautkan nama-nama yang kini berdiri sebagai pilar sejarah: KH. Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama; Soekarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia; serta H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam yang kerap dijuluki “raja tanpa mahkota.”

Secara genealogis dan intelektual, mereka bertemu pada satu poros: tradisi pemikiran yang menempatkan Islam dan nasionalisme bukan sebagai dua kutub yang berlawanan, melainkan sebagai energi yang saling menguatkan.

Gus Dur—KH. Abdurrahman Wahid—pernah menyebut Ki Kasan Besari sebagai “monumen berpadunya antara Islam dan nasionalisme.” Sebutan itu bukan sekadar metafora. Ki Kasan Besari dikenal luas di Nusantara sebagai ulama dengan penguasaan multidisipliner: tasawuf, ketatanegaraan, strategi perang, hingga kesusastraan. Pada masanya, ia menjadi magnet keilmuan, tempat orang-orang terbaik datang untuk belajar dan bertukar pikiran.

Disebut ‘monumen’ karena gagasan dan pengaruhnya berdiri tegak melampaui zamannya. Dari jalur keilmuan inilah lahir tokoh-tokoh penting, mulai dari Pakubuwono II, Sultan Kartasura yang bergulat di medan politik dan kekuasaan, hingga Raden Ngabehi Ronggowarsito—sastrawan Jawa yang dikenal lewat kidung zaman edan.

Dari mata air yang sama pula muncul H.O.S. Tjokroaminoto, motor penggerak nasionalisme awal abad ke-20.

Garis Keluarga dan Ide

Gus Dur menegaskan bahwa dari jalur Ki Kasan Besari inilah tersambung hubungan kekeluargaan antara H.O.S. Tjokroaminoto dan Hadlratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan itu bukan sekadar silsilah darah, melainkan persaudaraan ide. Menurut Gus Dur, visi kebangsaan NU sangat dipengaruhi oleh kedekatan intelektual dan kekerabatan antara dua tokoh tersebut.

Dalam esainya Persaudaraan dan Pluralitas Kita (2008), Gus Dur mengingatkan bahwa dialog antara Islam dan nasionalisme bukan hal baru. Ia mencontohkan dirinya sendiri yang kerap dituding “anti-Islam” karena membela kelompok Ahmadiyah. Padahal, kata Gus Dur, sejak 1919 KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Wahab Chasbullah telah menunjukkan sikap serupa: membuka ruang dialog, bukan menutupnya.

Pada masa itu, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah kerap berdiskusi dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan Soekarno—yang kala itu masih muda—tentang bagaimana ajaran Islam dapat berdialog dengan paham kebangsaan yang telah tumbuh berabad-abad di Nusantara. Diskusi itu berlangsung dalam suasana cair, tanpa dikotomi tajam antara iman dan tanah air.

Dalam tulisan lain, Sebuah Era dengan Kejadian-Kejadian Penting (2009), Gus Dur mencatat sebuah rutinitas intelektual yang nyaris terlupakan: setiap Kamis siang pada 1919, di Surabaya, H.O.S. Tjokroaminoto bertemu dengan dua sepupu jauhnya, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang, dan KH. Ahmad Wahab Chasbullah. Tjokroaminoto kerap hadir bersama menantunya, Soekarno—yang kelak dikenal sebagai Bung Karno.

Pertemuan itu membahas satu tema besar: relasi antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Sesekali, HM Djojosoegito—kerabat mereka—ikut hadir. Ia kelak mendirikan Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada 1928. Dari lingkar kecil diskusi inilah lahir pemikiran-pemikiran besar yang membentuk arah pergerakan Islam dan nasionalisme Indonesia.

Gus Dur menambahkan, persaudaraan itu juga diperkuat oleh garis keluarga yang lebih jauh. H.O.S. Tjokroaminoto dan KH. Hasyim Asy’ari sama-sama keturunan Kiai Harun, atau Ki Ageng Basjariah, dari Sewulan, sekitar sepuluh kilometer di selatan Madiun. Silsilah itu menjelaskan mengapa dialog Islam dan kebangsaan di antara mereka terus berlanjut dan tidak pernah benar-benar terputus.