Membidani Pertukaran Pikiran

Benih dialog itu kemudian mengambil bentuk organisasi. Jauh sebelum Nahdlatul Ulama berdiri pada 1926, pada 1918, KH. Wahab Chasbullah bersama KH. Mas Mansyur, H.O.S. Tjokroaminoto, KH. A. Dahlan Ahyad, dan P. Mangun membentuk Taswirul Afkar—yang berarti “pertukaran pikiran.”

Taswirul Afkar berada di bawah perkumpulan Suryo Sumirat. Sejak awal berdiri, papan namanya mencantumkan identitas: Suryo Soemirat Afdeeling Taswirul Afkar. Ini bukan organisasi massa dalam arti modern, melainkan ruang diskusi, tempat ide-ide tentang Islam, pendidikan, dan kebangsaan diperdebatkan secara terbuka.

Konteks zamannya penting. Para kiai dan aktivis pergerakan menyadari bahwa penjajahan Belanda tidak hanya berlangsung di bidang politik dan ekonomi, tetapi juga di ranah pendidikan dan kebudayaan Islam. Maka lahirlah kesadaran kolektif untuk melawan penjajahan dengan berbagai cara.

H.O.S. Tjokroaminoto memilih jalur politik dan pergerakan massa. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan Kiai Dahlan Achyad bergerak melalui jalur sosial-keagamaan dan pendidikan. Perbedaan strategi itu bukan pertentangan, melainkan pembagian peran.

Dari Taswirul Afkar, benang-benang pemikiran itu kemudian dirajut menjadi organisasi yang lebih mapan. Nahdlatul Ulama lahir bukan sebagai reaksi sesaat, melainkan sebagai kelanjutan dari dialog panjang antara iman, kebangsaan, dan realitas penjajahan.

Warisan yang Terus Hidup

Sejarah ini menjelaskan mengapa NU, sejak kelahirannya, selalu menjaga keseimbangan antara Islam dan nasionalisme. Bagi para pendirinya, cinta tanah air bukan ancaman bagi iman, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Di titik temu itulah KH. Wahab Chasbullah, H.O.S. Tjokroaminoto, KH. Hasyim Asy’ari, dan Soekarno bertemu—bukan hanya sebagai tokoh, tetapi sebagai simpul sejarah. Sebuah monumen gagasan yang hingga kini masih berdiri, menantang setiap generasi untuk terus merawat dialog antara keyakinan dan kebangsaan.***