Pena sebagai Senjata

Di luar mimbar dan rapat akbar, Tjokroaminoto juga bertarung lewat tulisan. Ia menjadi kontributor tetap majalah Bintang Surabaya, lalu mendirikan NV Setia untuk menerbitkan harian Utusan Hindia. Koran ini dipimpinnya sendiri, dengan tulisan-tulisan tajam yang tanpa tedeng aling-aling mengecam kebijakan pemerintah penjajah. Ketajaman itu berbuah represi: pada 1923, Utusan Hindia dilarang terbit. Dua tahun kemudian, bersama Agus Salim, ia kembali menyalakan api perlawanan lewat harian Fajar Asia di Yogyakarta.

Cita-citanya jelas dan modern untuk ukuran zamannya. Ia membayangkan Indonesia memiliki pemerintahan sendiri, lengkap dengan parlemen yang melahirkan undang-undang. Gagasan ini ia lontarkan pada Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam tahun 1916. Dua tahun berselang, pemerintah penjajah Belanda merespons dengan membentuk Dewan Rakyat (Volksraad). Tjokroaminoto, Abdul Muis, dan Agus Salim terpilih sebagai anggota—sebuah pengakuan diam-diam bahwa suara pribumi tak lagi bisa diabaikan.

Meski pemerintah penjajah Hindia Belanda menolak mengesahkan Sarekat Islam secara nasional, organisasi ini tetap hidup dengan status badan hukum di tingkat lokal. Di tangan Tjokro, SI tumbuh eksplosif. Dalam rentang 1917–1919, jumlah anggotanya melonjak dari sekitar 825.000 menjadi 2,5 juta orang. Angka itu menjadikan SI kekuatan sosial-politik terbesar pada masanya.

Bagi rakyat pribumi, Tjokro adalah Ksatria Piningit—sosok tersembunyi yang akhirnya muncul. Bagi pemerintah penjajah, ia adalah figur yang harus diperhitungkan, bahkan diawasi.

Akhir Sebuah Zaman

Hari Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H—bertepatan dengan 17 Desember 1934—H.O.S. Tjokroaminoto wafat dan dimakamkan di Kuntjen, Yogyakarta. Kepergiannya menandai akhir satu bab penting dalam sejarah pergerakan nasional.

Duka datang dari berbagai arah. Soekarno, mantan murid sekaligus mantan menantunya, menulis surat duka kepada Oetari, putri sulung Tjokro. Surat itu mengejutkan Oetari, yang tak menyangka Soekarno akan menghubunginya. Media pun ramai memberitakan wafatnya: dari Penindjauan, Sinar Pasundan, Sipatahunan, Pewarta Surabaja, hingga surat kabar Belanda seperti Het Indische Volk.

Tjokroaminoto pergi tanpa mahkota, tanpa mitos yang ia rawat sendiri. Namun jejaknya tertinggal dalam kesadaran bangsa: bahwa harapan rakyat, betapapun berbalut mitologi, harus diarahkan pada kerja nyata. Ia menolak menjadi Ratu Adil—dan justru karena itu, ia dikenang sebagai guru bangsa.***