Akhir Sebuah Zaman
Hari Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H—bertepatan dengan 17 Desember 1934—H.O.S. Tjokroaminoto wafat dan dimakamkan di Kuntjen, Yogyakarta. Kepergiannya menandai akhir satu bab penting dalam sejarah pergerakan nasional.
Duka datang dari berbagai arah. Soekarno, mantan murid sekaligus mantan menantunya, menulis surat duka kepada Oetari, putri sulung Tjokro. Surat itu mengejutkan Oetari, yang tak menyangka Soekarno akan menghubunginya. Media pun ramai memberitakan wafatnya: dari Penindjauan, Sinar Pasundan, Sipatahunan, Pewarta Surabaja, hingga surat kabar Belanda seperti Het Indische Volk.
Tjokroaminoto pergi tanpa mahkota, tanpa mitos yang ia rawat sendiri. Namun jejaknya tertinggal dalam kesadaran bangsa: bahwa harapan rakyat, betapapun berbalut mitologi, harus diarahkan pada kerja nyata. Ia menolak menjadi Ratu Adil—dan justru karena itu, ia dikenang sebagai guru bangsa.***



0 Komentar