Taktik itu mengharuskan awak kapal mematikan transponder sistem pelacakan otomatis atau AIS saat memasuki area Teluk Persia yang berisiko tinggi. Kapal raksasa ini sempat menghilang tanpa jejak dari radar pantauan sipil selama lebih dari sepuluh hari.
Taktik Pelayaran Gelap yang Berisiko
Keberhasilan Omega Trader menjadi bukti bagaimana operator kapal terpaksa bertaruh nyawa demi mempertahankan rantai pasok energi global.
Jurnalis dan Analis Data Maritim dari Bloomberg, Prejula Prem dan Alex Longley, pada 24 Maret 2026 mengonfirmasi keberhasilan manuver tersebut. “Sebuah kapal tanker minyak berkapasitas besar yang mengangkut dua juta barel minyak mentah Irak telah berhasil melewati Selat Hormuz.
Penyeberangan gelap, dengan transponder dimatikan, membuat sulit untuk melacak jumlah pasti kapal tanker yang melintas melalui selat tersebut,” ujar mereka.
Sebelumnya, IRGC telah mengeluarkan peringatan keras melalui radio VHF. Mereka menegaskan tidak ada kapal dagang yang diizinkan melintasi jalur tersebut.
Pada awal Maret, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran yang identitasnya disamarkan oleh media pemerintah bahkan mengeluarkan ancaman mematikan.
“Selat Hormuz ditutup. Kapal apa pun yang mencoba melintasi jalur tersebut akan diserang,” tegasnya. Ancaman ini terbukti dengan diserangnya beberapa kapal dagang, seperti Skylight dan Athe Nova, di sekitar perairan Oman.
Meski berhasil lolos, taktik yang digunakan Omega Trader hanyalah pengecualian darurat, bukan sebuah kelaziman baru. Kapal tanker Eagle Velour tujuan Korea Selatan juga sebelumnya dilaporkan berhasil lolos dengan membawa muatan dua juta barel menggunakan cara serupa.
Namun, kondisi secara umum tetap mencekam. Volume lalu lintas kapal tanker di kawasan itu telah anjlok hingga 90 persen. Peristiwa ini memaksa dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan harga energi akibat tersendatnya urat nadi distribusi minyak bumi.***




0 Komentar