Bukan Memilih Guru atau Google

Menyalahkan internet tentu bukan jawaban.

Digitalisasi telah membuka akses ilmu yang sebelumnya nyaris mustahil dinikmati masyarakat luas. Banyak ulama juga memanfaatkan platform digital untuk memperluas dakwah dan menjangkau generasi muda.

Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara menggunakannya.

Internet seharusnya menjadi pintu masuk menuju ilmu, bukan tujuan akhirnya. Mesin pencari dapat membantu menemukan referensi, tetapi tidak dapat menggantikan proses belajar yang membutuhkan bimbingan, dialog, koreksi, dan pembentukan adab.

Karena pada akhirnya, yang sedang diperebutkan bukan sekadar siapa yang menguasai informasi.

Yang sedang berubah adalah sumber legitimasi ilmu itu sendiri. Ketika algoritma mulai lebih dipercaya daripada sanad, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah kita semakin mudah belajar agama, melainkan siapa yang sesungguhnya sedang membentuk cara kita memahami agama.***