Dari Sanad ke Algoritma

Dalam tradisi Islam klasik, seorang murid tidak memulai perjalanan ilmunya dengan kitab paling rumit.

Ia belajar bahasa Arab, ushul fiqih, logika, ilmu hadis, hingga adab sebelum memasuki karya-karya besar seperti Shahih Bukhari. Ada kurikulum. Ada tahapan. Ada guru yang mengetahui kapan seorang murid siap melangkah ke tingkat berikutnya.

Internet menghapus hampir seluruh mekanisme penyaringan itu.

Seseorang bisa membaca potongan hadis tanpa mengetahui sebab kemunculannya. Bisa mengutip ayat tanpa memahami konteks sejarahnya. Bahkan dapat menyaksikan perdebatan antarulama tanpa memiliki perangkat metodologis untuk menilainya.

Yang lahir bukan selalu kebodohan, tetapi ilusi pengetahuan.

Tom Nichols, dalam The Death of Expertise, menyebut fenomena ini sebagai kecenderungan masyarakat modern menganggap akses informasi sama dengan memiliki keahlian. Padahal membaca bukan berarti memahami, apalagi menguasai.

Ketika Semua Orang Merasa Menjadi Ahli

Media sosial mempercepat gejala tersebut.

Potongan video berdurasi satu menit sering dianggap cukup untuk menjawab persoalan fiqih yang telah diperdebatkan ulama selama ratusan tahun. Kolom komentar berubah menjadi ruang fatwa. Viral sering kali lebih menentukan daripada valid.

Gary Bunt telah mengamati gejala ini sejak awal 2000-an dalam Islam in the Digital Age. Internet, menurutnya, bukan sekadar media penyebaran dakwah, tetapi juga ruang lahirnya otoritas-otoritas baru yang tidak selalu dibangun melalui pendidikan formal maupun sanad keilmuan.

Popularitas perlahan menjadi mata uang baru dalam otoritas agama.

Yang Hilang Bukan Sekadar Guru

Perubahan paling mendasar sebenarnya bukan pada cara mencari informasi, melainkan pada hilangnya dimensi pembentukan karakter.

Dalam tradisi pesantren, seorang murid belajar melalui suhbah—kebersamaan dengan guru. Dari situlah lahir adab, kerendahan hati, kesabaran, dan etika berbeda pendapat. Nilai-nilai itu tidak tertulis di dalam kitab, tetapi hidup melalui keteladanan.

Internet mampu mengirim jutaan halaman teks dalam hitungan detik.

Namun ia tidak mampu mentransmisikan keteladanan.

Ia dapat menghadirkan ceramah, tetapi tidak menghadirkan hubungan guru dan murid. Ia menyimpan informasi, tetapi tidak membentuk karakter.