Ajaran Sunan Kalijaga menautkan spiritualitas, sungai, dan etika ekologis

KOSONGSATU.ID—Sunan Kalijaga atau Raden Sahid dikenal tidak hanya sebagai pendakwah, tetapi juga perumus etika lingkungan berbasis spiritualitas Jawa-Islam. Sungai, bagi Kalijaga, bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang laku batin.

Peneliti CDIE UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Siti Muyassarotul Hafidzoh, dalam tulisannya Beragama dan Sikap Ramah Lingkungan menyebut Kalijaga kerap bermunajat di lintasan sungai. Perhatian itu menjadi alasan lekatnya nama “Kalijaga”, penjaga kali atau sungai.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa menjaga sungai, hutan, dan kawasan aliran air dipahami sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar urusan teknis lingkungan.

Memayu Hayuning Bawono dan Etika Ekologi

Filosofi memayu hayuning bawono ambrasto dur hangkoro menjadi inti ajaran ekologis Kalijaga. Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Khusnul Yaqin, menjelaskan makna pitutur ini sebagai bangunan filosofis utuh.

Memayu berarti merawat dan memperindah, hayuning bawono menunjuk keindahan dan keseimbangan semesta, sementara ambrasto dur hangkoro adalah perintah menaklukkan angkara murka dalam diri manusia.

Pesannya jelas: bumi hanya bisa dijaga oleh jiwa yang bening. Kerusakan alam berakar pada krisis moral manusia yang gagal mengendalikan keserakahan.

Bertemu Ekologi Modern

Gagasan Kalijaga bergema dalam wacana ekologi global. Albert Schweitzer lewat Reverence for Lifemenolak pandangan antroposentris dan menegaskan seluruh kehidupan memiliki nilai moral intrinsik.

James Lovelock, penggagas hipotesis Gaia, memandang bumi sebagai sistem hidup yang mampu mengatur keseimbangannya sendiri. Pandangan ini sejalan dengan hayuning bawono sebagai struktur kosmis, bukan sekadar estetika.

Sementara itu, Warwick Fox menekankan ekologi transpersonal: krisis lingkungan tak selesai hanya dengan regulasi, tetapi menuntut transformasi batin dan perluasan kesadaran manusia melampaui ego.

Kidung, Pancer, dan Kepemimpinan Diri

Dalam Kidung Marmati dan konsep sedulur papat limo pancer, Kalijaga menegaskan relasi manusia dengan unsur alam sejak kelahiran. Kerusakan lingkungan dipahami sebagai tanda keterputusan manusia dari harmoni asalinya.

Pesan serupa hadir dalam tembang Ilir-ilir. Faiz Manshur dari Yayasan Odesa Indonesia menafsirkan lagu ini sebagai ajakan membangunkan kesadaran, menumbuhkan kehidupan, dan memimpin diri sebelum memimpin alam dan masyarakat.

Kepemimpinan ekologis, dalam kerangka ini, dimulai dari pengendalian nafsu, pikiran, dan sikap terhadap lingkungan.

Mendengarkan Sungai

Antropolog lingkungan Veronica Strang mengajak dunia “mendengarkan sungai” sebagai entitas hidup dengan kepentingannya sendiri. Sungai adalah ekosistem sekaligus urat nadi peradaban.

Di Indonesia, fungsi ini kian terabaikan. Banyak permukiman membelakangi sungai, limbah rumah tangga mengalir tanpa kendali, dan hutan penyangga DAS terus menyusut. Banjir dan pencemaran menjadi respons alam atas kelalaian manusia.