Malam 9 Ramadan 1447 Hijriah di Kota dan Kabupaten Madiun menjadi ruang hening yang sarat makna ketika warga Thoriqoh Shiddiqiyyah bersujud syukur, menautkan kemerdekaan bangsa dengan doa yang khusyuk.


KOSONGSATU.ID—Di empat titik berbeda, jamaah berkumpul dalam suasana tertib dan sederhana. Di wilayah kota, kegiatan dipusatkan di Rumah Garuda. Wilayah selatan berlokasi di Musala Baitul Ghufron, Sukosari, Dagangan. Di barat, jamaah berkumpul di Gubug Metesih, Jiwan. 

Sementara wilayah timur dan utara bergabung di Jami’atul Mudzakirin, Bagi. Malam itu, lantunan doa mengalun pelan, disusul sujud syukur yang dilakukan serentak sebagai penegasan bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan nikmat yang terus dirawat.

Bagi warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, 9 Ramadan bukan tanggal biasa. Pada malam itu, mereka memanjatkan doa untuk mensyukuri kemerdekaan bangsa Indonesia. Keesokan harinya, 10 Ramadan, doa kembali dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian tasyakuran tahunan yang dilaksanakan dua kali dalam setahun.

Selain merujuk kalender Hijriah pada 9–10 Ramadan, tasyakuran juga digelar berdasarkan kalender Masehi setiap 17–18 Agustus. Pola ini membentuk ritme peringatan ganda: satu mengikuti arus nasional yang umum dirayakan masyarakat, satu lagi merujuk pada penanggalan Hijriah yang diyakini sebagai momentum historis pembacaan Proklamasi tahun 1364 H.

Rangkaian acaranya hampir serupa di setiap momentum. Jamaah melaksanakan salat berjamaah, doa sujud syukur, kegiatan seremonial, serta santunan sosial. Dalam doa-doa itu, kemerdekaan disebut sebagai nikmat besar yang terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa serta dorongan keinginan luhur bangsa Indonesia. Ungkapan tersebut diulang dalam suasana khidmat, seolah menjadi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari dimensi spiritual sekaligus perjuangan kolektif.

Kegiatan ini berada dalam bimbingan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi. Dalam setiap tasyakuran, arahan untuk menjaga rasa syukur dan nasionalisme ditegaskan sebagai bagian dari laku spiritual. Spirit keagamaan dan komitmen kebangsaan dirajut dalam satu tarikan napas.

Doa untuk Pahlawan, Aksi untuk Sesama

Dalam rangkaian sujud syukur tersebut, doa khusus juga dipanjatkan untuk para pahlawan perjuangan dan pergerakan. Nama-nama mereka mungkin tidak selalu disebut satu per satu, tetapi semangat pengorbanannya dihadirkan dalam tiap bait doa. Kemerdekaan dipandang bukan sekadar capaian politik, melainkan amanah yang harus dijaga melalui tindakan nyata.

Pada tasyakuran berbasis kalender Masehi, warga menambahkan agenda pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah melalui program Dhillal Berkat Rohmat Allah (DHIBRA). Program ini menjadi bentuk konkret rasa syukur yang diterjemahkan ke dalam aksi sosial. Rumah-rumah yang dibangun ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan, memperluas makna kemerdekaan hingga ke ranah kesejahteraan.

Dengan demikian, sujud syukur tidak berhenti pada ritual. Ia menjelma menjadi kerja sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Spirit doa bergerak menjadi program. Rasa syukur diterjemahkan menjadi keberpihakan.

Di Madiun, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan khidmat. Jamaah mengikuti acara hingga penutup yang diakhiri dengan doa bersama untuk bangsa dan negara. Dalam hening malam Ramadan, sujud itu menjadi simbol pengakuan bahwa kemerdekaan adalah nikmat yang perlu disyukuri secara berulang—bukan hanya dirayakan, tetapi juga dijaga.

Melalui agenda ini, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menegaskan kewajiban melaksanakan tasyakuran kemerdekaan dan berdirinya NKRI sebanyak dua kali setiap tahun. Sebuah penegasan yang memadukan sejarah, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial dalam satu rangkaian ibadah.

Di antara lantunan doa dan sujud yang panjang, tersirat satu pesan sederhana: kemerdekaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan ikhtiar yang terus diperbarui—di masjid, di musala, dan di hati mereka yang memilih untuk bersyukur.***