Di balik suara pidato yang menggelegar dan persona politik yang flamboyan, Soekarnomenyimpan keyakinan sunyi: martabat manusia tercermin dari caranya memperlakukan binatang.


KOSONGSATU.ID—Pemikiran itu ia rangkum sederhana—mengutip Mahatma Gandhi—bahwa kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat diukur dari bagaimana ia memperlakukan hewan. Bagi Soekarno, kalimat itu bukan slogan. Ia menjadi laku hidup, dibentuk sejak kecil, diuji dalam pengasingan, dan dipraktikkan bahkan saat ia berada di puncak kekuasaan.

Didikan Keras, Empati yang Tumbuh

Kisah itu bermula di masa kanak-kanak. Soekarno kecil pernah memanjat pohon jambu dan tanpa sengaja menjatuhkan sarang burung. Ayahnya, Raden Sukemi, menyaksikan kejadian itu. Amarah meledak—bukan karena pohon atau buah, melainkan karena seekor burung dan telur-telurnya.

Soekarno yang masih tujuh tahun ketakutan. Ia mengangguk patuh saat ayahnya mengingatkan ajaran Tat Twam Asi—“dia adalah aku, dan aku adalah dia.” Makna ajaran Hindu itu ditanamkan sebagai etika hidup: Tuhan hadir dalam semua ciptaan, dan manusia bertugas melindungi makhluk-Nya. Sabetan rotan yang ia terima menjadi penanda kerasnya pelajaran itu. Sejak saat itu, empati terhadap binatang melekat kuat.

Anjing “Ketuk Satu” dan “Ketuk Dua”

Di Bengkulu, masa pengasingan justru menghadirkan cerita-cerita yang lebih personal. Soekarno pernah mengajar bahasa Jawa kepada Jaap Kruisweg—akrab disapa Jimmy—seorang asisten perkebunan teh asal Belanda. Sebagai ungkapan terima kasih, Jimmy menghadiahkan dua ekor anjing jenis dachshund.

Sukarno tak pernah memberi nama formal. Ia memanggil keduanya dengan bunyi ketukan lidah: tuk-tuk-tuk. Maka, publik mengenal mereka sebagai “Ketuk Satu” dan “Ketuk Dua,” kisah yang ia tuturkan kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Fatmawati, dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno, mencatat perbedaan warna keduanya—yang satu hitam, satunya kuning.

Bagi Soekarno, keduanya bukan sekadar peliharaan. Ia tidur bersama mereka, berbagi kehangatan, seolah menegaskan bahwa kedekatan lintas spesies adalah bentuk kemanusiaan yang utuh.

Binatang sebagai Bahasa Gagasan

Ketertarikan itu merembes ke ruang publik. Dalam tulisan-tulisannya di surat kabar, Soekarno kerap menjadikan binatang sebagai pintu masuk gagasan—bahkan untuk isu prinsipil seperti agama. Di Panji Islam (1940), ia mengisahkan peristiwa anjing yang menjilat air di panci. Anaknya, Ratna Juami, mengingatkan hadis tentang mencuci tujuh kali dengan tanah. Soekarno menjawab dengan tenang: di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin.

Dialog itu bukan upaya meremehkan ajaran, melainkan penegasan bahwa Islam—menurutnya—mencintai kemajuan. Umat, katanya, harus mewarisi “api” Islam, bukan “abunya.” Sikap ini kelak membawanya berdebat dengan tokoh-tokoh pemikir besar, termasuk Mohammad Natsir, tanpa menggoyahkan keyakinannya.

Dalam kursus Pancasila di Istana Negara pada 1958, ia kembali mengangkat kisah hadis tentang seorang perempuan yang memberi minum anjing kehausan—dan ganjaran surga yang menyertainya. Pesannya lugas: ada hubungan moral antara dua makhluk, dan empati melampaui status sosial.

Burung Nuri Raja dan Makna Merdeka

Suatu hari, dua tamu dari Maluku datang ke Istana Negara membawa hadiah: seekor burung nuri raja yang indah. Soekarno menyambut mereka dengan hangat—berbincang panjang, minum teh, bertukar cerita—sebelum akhirnya bertanya apakah ia bebas memperlakukan hadiah itu sesukanya.

Ia lalu meminta pengawal melepaskan burung tersebut di taman istana. “Biarkan ia merdeka,” kata Soekarno, seperti dituturkan Bambang Widjanarko dalam Sewindu Dekat Bung Karno. “Seperti kita ingin merdeka selama-lamanya.”

Kisah itu bukan romantisasi. Di Bengkulu, Soekarno pernah memelihara puluhan burung gelatik dan sepasang cucakrawa dalam sangkar besar. Alih-alih terhibur, ia merasa bersalah. Semua burung dilepaskan. “Aku tak tega melihat sesuatu dikurung,” ujar Guntur Soekarnoputra dalam Wartawan Bertanya, Guntur Soekarno Menjawab.

Menolak Sangkar, Menolak Penindasan

Sikap itu konsisten hingga ia menjadi presiden. Dalam sebuah inspeksi mendadak ke asrama Detasemen Kawal Pribadi, Soekarno melihat burung-burung dipelihara dalam sangkar. Ia memerintahkan agar semuanya dilepas.

“Jangan memenjarakan burung, sekalipun sangkarnya dari emas,” katanya, sebagaimana dicatat H. Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967. Pengalaman dipenjara tanpa kesalahan membuatnya peka: penindasan, dalam bentuk apa pun, tak bisa dibenarkan.

Ia melakukan hal serupa terhadap monyet yang dirantai di Sumatra, serta seekor kanguru hadiah saat Irian Barat kembali ke pangkuan Indonesia. Semua dilepaskan—dikembalikan ke habitat asalnya.

Etika yang Melampaui Zaman

Kisah-kisah ini menyusun potret lain Soekarno—bukan hanya sebagai orator dan negarawan, melainkan sebagai manusia yang menautkan kemerdekaan politik dengan kemerdekaan makhluk hidup. Dalam pandangannya, kasih sayang bukan sentimentalitas, melainkan fondasi etika publik.

Di tengah dunia yang kerap memisahkan kekuasaan dari empati, warisan kecil ini terasa relevan. Soekarno, tampaknya, ingin mengingatkan: kemerdekaan sejati tak berhenti pada manusia—ia meluas ke seluruh ciptaan.***