​”Dalam bahasa isyarat itu diartikan Bung Karno menjadi Presiden RI dan KH Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama RI waktu itu,” terang Dian Sukarno, penulis buku Candradimuka ‘Trilogi Spiritualitas Bung Karno’.

​Air Doa di Atas Selat Madura

​Lebih dari sekadar urusan nasib bangsa, Bung Karno juga menautkan kepercayaan personalnya kepada Mbah Kholil. Suatu hari, Soekarno sengaja menyeberangi Selat Madura menggunakan kapal untuk memohon doa kesembuhan bagi orang tuanya yang sakit keras.

​Mendengar keluh kesah tamunya, Mbah Kholil segera memberikan sebuah amalan. Beliau mengambil sebotol air, mendoakannya, dan memberikan instruksi khusus kepada Soekarno.

​”Mbah Kholil akhirnya ambilkan sebotol air, dibacakan doa. Lalu Bung Karno disuruh membawanya dan disuruh membuangkan air itu di tengah-tengah perjalanannya melewati lautan,” cerita KH Zubair Muntasor, salah satu cucu Mbah Kholil.

​Tanpa banyak tanya, Bung Karno menuruti perintah sang kiai. Di tengah perjalanan pulang, ia membuang air tersebut ke Selat Madura. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul dua siang. Menariknya, ketika Bung Karno tiba di rumah, ia mendapati orang tuanya telah berpulang. Waktu kematian tersebut rupanya bertepatan persis pada pukul dua siang, detik yang sama ketika Soekarno melepas air doa itu ke lautan.

​Merawat Ingatan Sejarah

​Rangkaian kisah ini membuka mata kita bahwa Soekarno, sang arsitek kemerdekaan berpendidikan Barat, sangat membumi dan menghormati tuah spiritual ulama Nusantara.

Kemerdekaan dan fondasi bangsa ini berdiri tegak berkat jalinan kuat antara kaum pergerakan dan pemuka agama. Memahami kedekatan Bung Karno dan Syaikhona Kholil Bangkalan adalah cara terbaik bagi kita hari ini untuk merawat harmoni antara semangat kebangsaan dan nilai-nilai religius.***


​Daftar Rujukan:

  • ​Salam, Solichin. 1988. Soekarno-Hatta. Jakarta: Berita Buana.
  • Sukarno, Dian. Candradimuka: Trilogi Spiritualitas Bung Karno.
  • Tim Penyusun. H. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925.