Bung Karno memilili sejarah kedekatan spiritual dengan ulama kharismatik Madura, Syaikhona Kholil Bangkalan, sebelum Indonesia merdeka.


KOSONGSATU. ID– ​Republik ini tidak lahir murni karena peluh para politisi semata. Ada doa dan isyarat langit dari ulama Nusantara yang turut membidani kelahirannya.

​Secara kasat mata, Soekarno dan Syaikhona Kholil Bangkalan hidup di dua dunia yang nyaris tidak bersinggungan. Bung Karno adalah sosok pemuda pergerakan yang meniti pendidikan modern di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) dengan gagasan revolusioner tentang kemerdekaan.

Sebaliknya, Syaikhona Kholil atau Mbah Kholil (lahir 1820) merupakan sosok ulama tradisional kharismatik yang menghabiskan waktunya mencetak kiai-kiai besar Nusantara di bilik pesantren.

​Namun, sejarah mencatat bahwa arus nasionalisme dan spiritualitas nyatanya bisa menyatu. Sebelum Indonesia merdeka, Bung Karno muda menyempatkan diri menyeberang ke Pulau Garam untuk sowan ke kediaman Mbah Kholil.

​Isyarat Pemimpin Besar dari Bangkalan

​Para tokoh pergerakan sadar betul bahwa mereka membutuhkan dukungan batin dari para ulama. Bung Karno datang menemui Mbah Kholil bersama guru politiknya, HOS Tjokroaminoto. Dalam momen pertemuan itu, Mbah Kholil mengusap dan meniup ubun-ubun Soekarno muda.

​Bagi tradisi pesantren, tindakan seorang kiai besar selalu memuat makna filosofis dan isyarat masa depan. Mbah Kholil bahkan secara khusus meminta HOS Tjokroaminoto untuk menjaga anak didik yang ia bawa tersebut.

​”Waktu itu Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan menyatakan kepada HOS Tjokroaminoto bahwa anak muda yang dibawanya itu nanti akan menjadi orang besar. Ternyata ucapan Kiai Kholil itu menjadi kenyataan,” catat Solichin Salam dalam bukunya Soekarno-Hatta. 

​Tidak hanya sekali, pemerhati sejarah Dian Sukarno juga mencatat bahwa Bung Karno pernah berkunjung ke Bangkalan bersama tokoh Nahdlatul Ulama, KH Wahid Hasyim. Saat itu, Mbah Kholil kembali mengusap kepala Bung Karno dan menepuk pundak KH Wahid Hasyim.

​”Dalam bahasa isyarat itu diartikan Bung Karno menjadi Presiden RI dan KH Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama RI waktu itu,” terang Dian Sukarno, penulis buku Candradimuka ‘Trilogi Spiritualitas Bung Karno’.

​Air Doa di Atas Selat Madura

​Lebih dari sekadar urusan nasib bangsa, Bung Karno juga menautkan kepercayaan personalnya kepada Mbah Kholil. Suatu hari, Soekarno sengaja menyeberangi Selat Madura menggunakan kapal untuk memohon doa kesembuhan bagi orang tuanya yang sakit keras.

​Mendengar keluh kesah tamunya, Mbah Kholil segera memberikan sebuah amalan. Beliau mengambil sebotol air, mendoakannya, dan memberikan instruksi khusus kepada Soekarno.

​”Mbah Kholil akhirnya ambilkan sebotol air, dibacakan doa. Lalu Bung Karno disuruh membawanya dan disuruh membuangkan air itu di tengah-tengah perjalanannya melewati lautan,” cerita KH Zubair Muntasor, salah satu cucu Mbah Kholil.

​Tanpa banyak tanya, Bung Karno menuruti perintah sang kiai. Di tengah perjalanan pulang, ia membuang air tersebut ke Selat Madura. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul dua siang. Menariknya, ketika Bung Karno tiba di rumah, ia mendapati orang tuanya telah berpulang. Waktu kematian tersebut rupanya bertepatan persis pada pukul dua siang, detik yang sama ketika Soekarno melepas air doa itu ke lautan.

​Merawat Ingatan Sejarah

​Rangkaian kisah ini membuka mata kita bahwa Soekarno, sang arsitek kemerdekaan berpendidikan Barat, sangat membumi dan menghormati tuah spiritual ulama Nusantara.

Kemerdekaan dan fondasi bangsa ini berdiri tegak berkat jalinan kuat antara kaum pergerakan dan pemuka agama. Memahami kedekatan Bung Karno dan Syaikhona Kholil Bangkalan adalah cara terbaik bagi kita hari ini untuk merawat harmoni antara semangat kebangsaan dan nilai-nilai religius.***


​Daftar Rujukan:

  • ​Salam, Solichin. 1988. Soekarno-Hatta. Jakarta: Berita Buana.
  • Sukarno, Dian. Candradimuka: Trilogi Spiritualitas Bung Karno.
  • Tim Penyusun. H. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1835-1925.