Sebuah lempengan tembaga dari abad ke-13 menyimpan kisah yang berbeda dari teks yang selama ini menjadi rujukan sejarah Singasari. Di antara keduanya, ada perdebatan akademik yang belum selesai.
KOSONGSATU.ID — Sebuah dokumen resmi kerajaan — bukan salinan, bukan terjemahan, melainkan lempeng tembaga yang dikeluarkan langsung atas nama raja — menyebut leluhur dinasti dengan cara yang sama sekali berbeda dari versi yang selama ini banyak beredar.
Itulah yang terjadi ketika Prasasti Mula Malurung dibandingkan dengan Serat Pararaton. Dua sumber. Dua versi. Satu nama: Ken Arok.
Prasasti yang Tidak Menyebut Nama
Pada tahun 1975, sepuluh keping lempeng tembaga ditemukan di sekitar Kota Kediri, Jawa Timur. Tiga lempeng berikutnya menyusul pada Mei 2001 — ditemukan di lapak penjual barang loak tidak jauh dari lokasi pertama. Keseluruhan lempeng kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Inilah Prasasti Mula Malurung — sebuah piagam bertanggal 1255 Masehi yang dikeluarkan oleh Kertanagara sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana, penguasa Singasari.
Isinya mencakup pujian kepada Dewa Siwa, nama raja-raja Singasari, dan penganugerahan tanah sima (bebas pajak) kepada seorang pejabat bernama Pranaraja.
Yang menarik bukan apa yang disebutkan, melainkan apa yang tidak disebutkan. Kedudukan Ken Arok sebagai pendiri dinasti — sebagaimana kisah sejarah yang populer selama ini — tidak dicatat atas namanya sendiri. Prasasti ini diduga merujuknya melalui gelar anumerta: Bhatara Siwa — sosok yang wafat di atas singgasana, bukan dalam adegan pembunuhan dramatik seperti yang dikisahkan teks lain.
Pakar sejarah sekaligus mantan Ketua Lesbumi PBNU, (almahrhum) KH Ng. Agus Sunyoto, pernah menyatakan bahwa tidak ada satu pun prasasti atau naskah kidung dari era Singasari yang secara eksplisit menyebut nama “Ken Arok”.
Agus juga mempertanyakan logika naratif Serat Pararaton yang menggambarkan raja terbunuh saat makan di singgasana. Karena seorang raja, menurutnya, tentu memiliki ruang makan khusus dan tidak bersantap di atas takhta keramat.
Serat Pararaton Karya Siapa?
Di sinilah perdebatan bermula. Serat Pararaton — yang mengisahkan Ken Arok sebagai sosok berlatar hina, anak haram, penjahat, sekaligus pendiri dinasti besar — adalah teks yang identitasnya masih menjadi tanda tanya.
Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton. Beberapa bagian teksnya tidak dapat dianggap sebagai fakta-fakta sejarah.
Teks ini paling dikenal dengan nama Pararaton — sebuah judul yang sebenarnya tidak muncul dalam tubuh teks itu sendiri, melainkan hanya di kolofon sebagian naskah yang bertahan. Teks aslinya justru dibuka dengan kalimat “nihan katuturanira Ken Angrok” — inilah kisah tentang Ken Angrok.
Nama Serat Pararaton? Itu pemberian Brandes. Penambahan kata serat — istilah Jawa Modern yang berarti “buku” — tampaknya merupakan inovasi Brandes sendiri, dan sebenarnya kurang tepat karena teks ini tidak berasal dari tradisi Jawa Modern tempat kata serat lazim digunakan.
Jan Laurens Andries Brandes adalah filolog kolonial Belanda yang menerjemahkan dan mempublikasikan teks ini pada 1897. Sekitar dua dekade kemudian, N.J. Krom menyempurnakan terjemahan Brandes, dibantu dua asistennya bersama Poerbatjaraka, seorang ahli Jawa Kuno.
Perdebatan yang Belum Selesai
Agus Sunyoto berpendapat bahwa popularisasi Pararaton oleh pihak penjajah memiliki dimensi politik. Teks ini disebarluaskan, menurut dia, ketika kaum bangsawan Jawa — yang membanggakan garis keturunan Majapahit — sedang mengobarkan perlawanan pada masa Perang Diponegoro.
Dengan menampilkan leluhur dinasti sebagai sosok berlatar hina, menurut Agus, narasi itu berpotensi melemahkan kebanggaan para pejuang. Ini adalah interpretasi yang ia kemukakan dalam berbagai forum diskusi sejarah — sebuah hipotesis, bukan fakta yang telah dibuktikan secara dokumenter.
Namun, sebagian akademisi melihat sisi lain. Adanya salinan naskah lontar Pararaton di Bali — yang bertanggal 1613 M dan 1638 M, dan hingga kini masih disimpan di rumah bangsawan serta pendeta Bali — justru disebut menolak argumen bahwa Pararaton adalah karangan Belanda. Salinan itu disebut ada jauh sebelum Brandes lahir, dan proses terjemahannya pun melibatkan sarjana pribumi.
Sejarawan Pitono menilai Pararaton tetap memiliki nilai sebagai sumber pembanding. Di dalam teks yang sarat mitos itu, menurutnya, terdapat latar belakang sosial, ekonomi, dan kebudayaan dari peristiwa sejarah abad ke-13 hingga ke-15 yang masih bisa digali.
Pakar sejarah C.C. Berg, dalam kajiannya (Kidung Sundayana, 1950), menyimpulkan bahwa teks Pararaton bersifat supranatural dan ahistoris secara keseluruhan. Ditulis bukan untuk merekam fakta, melainkan untuk melegitimasi kekuasaan melalui narasi gaib dan kutukan.
Sementara Wayan Jarrah, sejarawan Asia Tenggara dari École française d’Extrême-Orient (EFEO) Paris, mencatat bahwa jarak antara salinan tertua Pararaton dengan era Singasari yang dikisahkannya terpaut beberapa abad — sebuah rentang yang secara metodologis perlu diperhitungkan.
Prasasti sebagai Saksi Primer
Di tengah perdebatan itu, Prasasti Mula Malurung menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia bukan salinan, bukan terjemahan, dan bukan karya anonim. Ia adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh keturunan langsung dinasti yang bersangkutan, dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno, di atas media yang tahan waktu.
Berdasarkan analisis Slamet Muljana, dalam Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), prasasti ini mengungkap fakta-fakta baru, di mana pendiri Kerajaan Tumapel disebut sebagai Bhatara Siwa — nama lain Sang Rajasa alias Ken Arok — yang wafat di tahta kencana. Tidak ada keris berdarah. Tidak ada intrik makan siang di singgasana.
Bagi Agus Sunyoto, itu semua bukan sekadar perbedaan versi. Itu adalah soal metodologi: seberapa jauh sebuah teks sastra anonim yang penuh unsur supranatural bisa digunakan sebagai sumber sejarah faktual, ketika prasasti sezaman menyajikan narasi yang berbeda?
Dan apakah benar kecurigaan Agus Sunyoto, bahwa Ken Arok yang selama ini kita kenal adalah “tokoh fiktif” yang sengaja direkayasa oleh akademisi penjajah Belanda untuk meruntuhkan kebanggaan historis pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa?
Pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab. Dan justru di situlah historiografi Nusantara masih terus bergerak.***
- Catatan redaksi: Naskah ini dipublikasikan ulang dengan beberapa perbaikan untuk mempertahankan objektivitas dan kesan tendensius.
Daftar Referensi:
- Berg, C.C. (1950). Kidung Sundayana: Babak dalam Sejarah Majapahit. [Kajian ahistoris sastra Jawa Pertengahan]
- Brandes, J.L.A. (1897). Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Batavia: Albrecht & ‘s Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
- Muljana, Slamet. (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara. [Analisis Prasasti Mula Malurung]
- Sunyoto, Agus. (2017). Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
- Suwardi. (2008). “Manunggaling Ken Arok dan Serat Pararaton.” Jurnal Sejarah dan Budaya. Jakarta.
- Kemdikbud RI. “Prasasti Mula Malurung.” kebudayaan.kemdikbud.go.id






Tinggalkan Balasan