Sesajen wiwitan bukan mistik semata. Di balik nasi tumpeng dan ular sawah, leluhur Jawa merekayasa ekosistem dengan presisi yang baru kita pahami sekarang.
KOSONGSATU.ID – Sebelum sabit pertama diturunkan ke batang padi, petani Jawa sudah lebih dulu bekerja—bukan di sawah, melainkan di level ekosistem. Inilah wiwitan: upacara pra-panen yang selama berabad-abad dikira ritual mistis, padahal menyimpan logika ekologi yang baru bisa kita terjemahkan ke dalam bahasa sains modern.
Titen: Sains Sebelum Ada Laboratorium
Ilmu titen adalah metode observasi empiris khas Jawa—pembacaan pola alam yang diwariskan turun-temurun. Rudy Wiratama, dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM, menjelaskan bahwa sesajen bukan persembahan gaib semata, melainkan hasil pengamatan sistematis terhadap siklus hama, cuaca, dan respons tanaman.
Temuan-temuan titen itu lalu dibungkus dalam bahasa ritual agar mudah diingat dan dipraktikkan oleh seluruh komunitas tani—jauh sebelum ada penyuluh pertanian atau jurnal ilmiah.
Zona Tenang, Rantai Makanan Berjalan
Saat sesajen diletakkan di sudut sawah, masyarakat pantang menginjak atau mendekati area itu. Zona sakral ini secara tidak langsung menjadi habitat bagi ular sawah—predator alami tikus (Rattus argentiventer) yang menjadi hama utama padi.
Riset yang dipublikasikan di MILANG Journal of Mathematics and Its Applications (2024) membuktikan bahwa keseimbangan ekosistem sawah sangat bergantung pada populasi ular sebagai predator pertama. Tanpa gangguan manusia, rantai mangsa-predator ini bekerja organik—menekan ledakan hama tanpa pestisida kimia.

Padi Babon dan Logika Genetika
Tradisi menyisakan padi babon—satu ikat padi pilihan yang disimpan di petanen untuk benih musim berikutnya—adalah praktik konservasi plasma nutfah yang mendahului ilmu pemuliaan tanaman modern.
Petani Jawa memilih tanaman dengan bulir paling adaptif, paling tahan terhadap anomali cuaca, dan paling produktif. Prinsipnya identik dengan seleksi varietas unggul yang kini jadi fondasi program benih nasional.
Beringin Sakral, Hidrologi Terjaga
Sesaji di bawah pohon beringin (Ficus benghalensis) punya fungsi konservasi yang kini terkonfirmasi sains. Riset Barros et al. di City and Environment Interactions (2024) menunjukkan bahwa beringin tua menjaga kestabilan air tanah melalui sistem akar gantung yang bekerja sebagai pompa alami.
Dengan membangun zona larangan kultural di bawahnya, leluhur Jawa secara efektif mencegah penebangan pohon yang fungsi hidrologisnya baru bisa diukur oleh hidrologi modern—suatu mekanisme yang oleh peneliti disebut ecological belief system.
Mengelola, Bukan Membasmi
Pengetahuan tradisional wiwitan memahami bahwa hama tidak perlu dimusnahkan, hanya perlu dikelola. Prinsip ini selaras dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (integrated pest management) yang kini diadvokasi oleh FAO dan Kementerian Pertanian.
Pada akhirnya, falsafah memayu hayuning bawana—menjaga keindahan dunia—bukan sekadar puisi. Ia adalah mandat ekologis yang kini punya bukti empiris. Pertanyaannya: maukah kita belajar dari petani Jawa sebelum pengetahuan itu benar-benar hilang?***
DAFTAR RUJUKAN
Jurnal Ilmiah & Prosiding
- Barros, B. F., et al. (2024). Ficus trees and groundwater stability in tropical urban environments. City and Environment Interactions. https://doi.org/10.1016/j.cacint.2024
- Khusniati, M., Heriyanti, A. P., Aryani, N. P., et al. (2023). Kajian Etnosains dan Etnoekologi dalam Budaya Jawa. Penerbit Pustaka Rumah C1nta.
- Kusnanto, et al. (2024). Model ekosistem satu mangsa-dua predator: Tikus, ular, dan bangau di ekosistem sawah. MILANG Journal of Mathematics and Its Applications.
- Oktaviani, K., & Darmoko. (2021). Memayu Hayuning Bawana dalam Lakon Canus Dakwa Karya Ki Ditya Aditya. Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture, 2(3), 54–70.
- Sathotho, et al. (2023). Wiwitan Sebagai Pergelaran Budaya Dalam Tinjauan Ekofeminisme. Dance and Theatre Review. https://journal.isi.ac.id/index.php/DTR/article/view/11062
- Sitaresmi, T., Wening, R. H., Rakhmi, A. T., Yunani, N., & Susanto, U. (2013). Pemanfaatan Plasma Nutfah Padi Varietas Lokal dalam Perakitan Varietas Unggul. IPTEK Tanaman Pangan, 8(1), 22–30.
- Suhartini. (2009). Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Universitas Negeri Yogyakarta.
- Yuan, S., et al. (2024). Physiological water retention capacity of Ficus species in tropical environments. International Journal of Molecular Sciences. https://doi.org/10.3390/ijms25
Lembaga Riset & Pemerintah
- Badan Litbang Pertanian. (2013). Pengelolaan dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Padi di Indonesia. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi). https://repository.pertanian.go.id/bitstreams/51f98f83-7e57-4088-803e-53df0308d18a/download
- Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS). (2020). Pohon Sahabat Air: Peran Vegetatif dalam Konservasi Mata Air. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal. (2021). Mengenal Hama Tikus dan Strategi Pengendaliannya. https://distankp.tegalkab.go.id/index.php/berita-dan-artikel/180-mengenal-hama-tikus-dan-strategi-pengendaliannya
- Sudarmaji. (2004). Dinamika Populasi Tikus Sawah Rattus argentiventer (Rob & Kloss) pada Ekosistem Sawah Irigasi Teknis dengan Pola Tanam Padi-Padi-Bera [Disertasi Doktor]. Universitas Gadjah Mada. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/24625
Narasumber
- Wiratama, R. (2024). Dosen Program Studi Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Pembicara dalam Sesajen Workshop: Removing the Negative Stigma of Sesajen and Preserving Local Culture, 4 Desember 2024. https://fib.ugm.ac.id/en/2024/12/sesajen-workshop-removing-the-negative-stigma-of-sesajen-and-preserving-local-culture.html





Tinggalkan Balasan