Pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup dan pembalasan dilanjutkan.


KOSONGSATU.ID—Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei, menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup dalam pesan pertamanya kepada publik setelah dilantik oleh Majelis Ahli.

Pesan tersebut disiarkan oleh Pars Today pada Kamis (12/3/2026). Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pendahulunya, Ayatullah Ali Khamenei.

Ia kemudian berbicara langsung kepada rakyat Iran mengenai arah kebijakan negara di tengah konflik yang sedang berlangsung.

Pemimpin baru itu menekankan pentingnya persatuan nasional. Ia meminta rakyat tetap hadir dan mendukung perjuangan di berbagai lini.

“Keinginan rakyat adalah untuk melanjutkan pertahanan yang efektif dan membuat musuh menyesal,” ujarnya dalam pesan resmi yang dikutip Jumat (13/3/2026).

Mojtaba Khamenei juga menyinggung kemungkinan pembukaan front baru dalam konflik yang sedang berlangsung.

“Sekaitan dengan terbukanya front-front lain… sudah ada kajian, sementara aktivasinya bila kondisi perang terus berlanjut dan secara berkelanjutan berdasarkan maslahat,” katanya.

Penegasan Penutupan Selat Hormuz

Dalam pesan tersebut, Mojtaba Khamenei memberikan penegasan tegas mengenai Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia.

“Selat Hormuz juga harus tetap tertutup,” tegasnya.

Pernyataan ini memperkuat kebijakan Iran yang sebelumnya telah memblokade jalur tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Penutupan Selat Hormuz selama beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran krisis energi global.

Sejumlah laporan pasar energi mencatat harga minyak dunia melonjak setelah jalur tersebut ditutup karena sekitar sepertiga perdagangan minyak laut global melewati selat itu.

Janji Balas Dendam untuk Para Syuhada

Dalam pesan yang sama, Mojtaba Khamenei juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan upaya pembalasan terhadap serangan yang menewaskan warga negaranya.

Ia menyatakan pembalasan tidak hanya terkait dengan wafatnya Pemimpin Tertinggi sebelumnya, tetapi juga seluruh warga Iran yang gugur dalam serangan musuh.

“Pembalasan yang kami inginkan tidak hanya terkait dengan syahadah Rahbar Revolusi yang agung, tetapi setiap anggota dari bangsa yang syahid oleh musuh,” ujarnya.

Ia juga menyoroti serangan terhadap sekolah Shajarah Tayyibah Minab yang disebutnya sebagai tindakan kejahatan yang dilakukan secara sengaja oleh pihak musuh.

Menurutnya, tindakan tersebut akan ditindaklanjuti secara khusus oleh pemerintah Iran.

Mojtaba Khamenei juga memperingatkan bahwa jika pihak musuh menolak memberikan ganti rugi atas kerusakan dan korban yang terjadi, Iran akan mengambil langkah balasan.

“Jika mereka tidak membayar ganti rugi, maka kita akan mengambil harganya dan bila itu pun tidak bisa, maka kita akan menghancurkan hartanya seukuran itu,” katanya.

Seruan kepada Negara Tetangga

Dalam pesannya, Mojtaba Khamenei juga menyampaikan pesan kepada negara-negara tetangga Iran.

Ia menegaskan bahwa serangan Iran hanya menargetkan pangkalan militer musuh yang berada di wilayah negara-negara tersebut, bukan terhadap negara itu sendiri.

“Kami masih terpaksa melakukannya, sekalipun tetap berkeyakinan akan keharusan persahabatan antara kami dan negara-negara tetangga itu,” ujarnya.

Ia juga menyarankan negara-negara di kawasan untuk menutup pangkalan militer asing di wilayah mereka.

Menurutnya, klaim Amerika Serikat yang menyebut keberadaan pangkalan militer sebagai upaya menjaga keamanan kawasan tidak sesuai dengan kenyataan.

“Sudah semestinya sampai sekarang mereka sudah paham bahwa klaim menciptakan keamanan dan perdamaian oleh Amerika hanya kebohongan,” tegasnya.

Dalam pesan yang sama, Mojtaba Khamenei juga menyampaikan apresiasi kepada kelompok-kelompok yang disebut sebagai Front Perlawanan.

Ia menyebut Yaman dan Hizbullah sebagai sahabat terbaik Iran serta bagian penting dari nilai-nilai Revolusi Islam yang terus dipertahankan hingga kini.***