Negara-negara Arab meluncurkan kecaman keras terhadap agresi militer Israel-AS di wilayah Iran pada awal Maret 2026. Relokasi aset pertahanan AS ke Israel dinilai meninggalkan “celah keamanan” berbahaya dan melumpuhkan pasokan energi di Mesir serta Yordania.


KOSONGSATU.ID – Gelombang kecaman keras datang dari berbagai ibu kota negara Arab menyusul eskalasi militer besar-besaran yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat di kawasan Iran serta sekitarnya sejak awal Maret 2026.

Blok Arab menilai tindakan militer tersebut bukan sekadar defensif, melainkan agresi yang secara langsung merugikan stabilitas kedaulatan dan ekonomi mereka.

Ancaman Kedaulatan dan “Celah Keamanan”

Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui Kantor Berita Arab Saudi (SPA), negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyatakan bahwa wilayah udara mereka telah menjadi medan pertempuran tanpa izin. Kerugian utama yang disoroti adalah keputusan Amerika Serikat untuk merelokasi aset pertahanan udara strategis dari pangkalan di Teluk menuju Israel.

“Tindakan ini meninggalkan celah keamanan yang membahayakan infrastruktur sipil kami,” tulis pernyataan resmi Liga Arab yang bermarkas di Kairo. Para diplomat Arab merasa dikhianati karena komitmen keamanan AS dianggap lebih berat sebelah kepada Israel dibandingkan mitra strategis di Teluk.

Lumpuhnya Pasokan Energi dan Logistik

Dampak ekonomi menjadi perhatian utama. Berdasarkan data dari Kementerian Perminyakan Mesir, penghentian operasional lapangan gas Karish dan Leviathan oleh Israel telah menghentikan aliran ekspor gas ke Mesir dan Yordania secara total.

Selain itu, biaya asuransi pengapalan di Laut Merah dan Teluk Persia dilaporkan melonjak drastis. Laporan sirkulasi dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebutkan kenaikan biaya operasional logistik mencapai lebih dari 40 persen dalam satu pekan terakhir.

Hal ini memicu kekhawatiran akan inflasi besar-besaran di negara-negara yang bergantung pada impor pangan melalui jalur laut.

Ketegangan Diplomatik dengan Washington

Hubungan diplomatik antara Washington dan sekutu Arabnya berada di titik terendah. Laporan dari Reuters dan Al Jazeera menyebutkan bahwa dukungan terbuka pejabat tinggi AS terhadap narasi perluasan wilayah Israel telah memicu kemarahan publik.

Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut pernyataan tersebut sebagai “provokasi berbahaya” yang dapat mengakhiri harapan solusi dua negara secara permanen.***