Orde Baru: Modernisasi dan Ideologi Asing Terselubung
Pada era Orde Baru, penyusupan ideologi asing tidak hadir secara terbuka. Ia dibungkus dalam narasi stabilitas, modernisasi, dan pembangunan ekonomi.
Sekolah menjadi sarana legitimasi kebijakan pembangunan yang banyak merujuk pada model ekonomi dan tata kelola Barat, seiring masuknya modal asing dan lembaga internasional.
Sejarawan Asvi Warman Adam menilai pendidikan sejarah pada masa Orde Baru disederhanakan untuk menopang kekuasaan.
Pandangan ini ia sampaikan dalam berbagai wawancara, antara lain dengan Tempo dan Kompas, serta dalam tulisan-tulisannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Menurut Asvi, narasi kritis terhadap ketergantungan global dan modal asing sengaja diredam dalam buku pelajaran sejarah.
Reformasi dan Arus Ideologi Global
Memasuki era Reformasi, penyusupan ideologi asing ke pendidikan berlangsung lebih halus. Ia hadir melalui standar global, indikator internasional, dan bahasa kebijakan.
Pergantian kurikulum—dari Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka—kerap merujuk pada konsep global seperti daya saing internasional dan kompetensi abad ke-21.
Pengamat pendidikan Darmaningtyas menyebut perubahan kurikulum di Indonesia lebih sering dipicu arus kebijakan global dan dinamika politik.
Pernyataan itu disampaikan dalam Diskusi Nasional Pendidikan (2023) dan sejumlah wawancara media nasional.
Menurutnya, adopsi konsep internasional sering tidak disertai proses kontekstualisasi yang memadai dengan kondisi sosial Indonesia.
Buku Pelajaran dan Normalisasi Nilai Asing
Penelitian analisis wacana terhadap buku pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta Bahasa Indonesia menunjukkan kecenderungan penggunaan konsep universal tanpa konteks lokal.
Peneliti kurikulum Sri Wahyuni, M.Pd, menegaskan buku teks bukanlah teks netral.
Pandangan tersebut dimuat dalam Jurnal Pendidikan P4I (2024), yang menyatakan buku pelajaran merepresentasikan nilai yang dipilih negara dan sering diadaptasi dari kerangka berpikir global.
Nilai seperti individualisme, kompetisi, dan rasionalitas pasar kerap masuk secara implisit melalui bahasa pendidikan modern.





2 Komentar