Takbir menggema menembus dentuman meriam. Ribuan santri turun dari pesantren, menenteng bambu runcing dan doa. Mereka tak punya tank, tapi punya keyakinan. Inilah perang yang lahir dari fatwa. Bukan dari markas militer, tapi dari surau dan pesantren.
KOSONGSATU.ID—Tiga bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, penjajah datang lagi dengan wajah baru: NICA membonceng Sekutu. Di tengah kekacauan itu, dua nama ulama besar berdiri di garis depan spiritual bangsa: Syaikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
Dari tongkat dakwah Kiai Kholil, berpindah komando jihad kepada Mbah Hasyim. Dan dari Mbah Hasyim lahir Fatwa Jihad, seruan yang mengguncang tanah Jawa. Seruan itu sederhana tapi menggetarkan: “Mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ‘ain.”
Dalam hitungan hari, pesantren-pesantren berubah menjadi barak. Santri-santri dari Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Malang, hingga Madura meninggalkan kitab kuning mereka dan bergerak menuju Surabaya. Bukan karena haus darah, tapi karena cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Ledakan Resolusi dan Lahirnya Pasukan Takbir
Tanggal 21–22 Oktober 1945, di kantor NU Jalan Bubutan Surabaya, para ulama besar merumuskan Resolusi Jihad — turunan resmi dari fatwa Hasyim Asy’ari yang dikeluarkan sebulan sebelumnya.
Keputusan itu bukan sekadar seruan moral, tetapi instruksi strategis yang disiarkan lewat radio oleh Bung Tomo. Dari gelombang udara itu, kata “Allahu Akbar!” menjelma menjadi peluru paling mematikan bagi penjajah.
Surabaya pun berubah menjadi samudra manusia. Laskar santri berdampingan dengan arek-arek Suroboyo. Mereka menantang tank Inggris dengan bambu runcing, dan menertawakan pasukan Gurkha bersenjata lengkap yang datang dengan arogansi kemenangan Perang Dunia II.
Inggris mungkin menang di Eropa, tapi mereka tak pernah siap menghadapi amarah spiritual bangsa yang baru lahir. Dalam hitungan hari, dua jenderalnya — Mallaby dan Simon — tewas di tangan rakyat jelata.
Dari Bendera Robek ke Perang Besar
Kisah itu bermula dari kesombongan kecil yang berujung kiamat penjajah.
Tanggal 18 September 1945, seorang Belanda bernama W.V.Ch. Ploegman menaikkan bendera merah-putih-biru di atas Hotel Yamato. Esok paginya, dua pemuda — Koesno dan Hariyono — memanjat menara dan merobek bagian birunya.
Dari sana, Surabaya terbakar. Para penjajah lupa: kota ini adalah kandang macan. Dan ketika macan terluka, ia tak berunding — ia menerkam.
Darah Mallaby dan Dilema Soekarno
Pada 29 Oktober 1945, Jenderal Inggris Mallaby mengibarkan bendera putih menyerah, didampingi Jenderal Soedirman berkeliling Surabaya. Tapi, Inggris tak menepati janjinya.
Ketegangan memuncak di Jembatan Merah. Sebuah granat dilemparkan oleh Mayor Vanugopall dari pasukan Gurkha. Ledakan itu memicu baku tembak yang menewaskan Mallaby sendiri — tubuhnya terbakar di dalam mobil hitamnya.
Soekarno, atas permintaan Komandan Sekutu Philip Christison, sempat menyerukan penghentian perang. Tapi Soedirman dan Tan Malaka menolak keras.
“Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang merampok rumahnya!”
Dari sanalah api perlawanan membesar menjadi 10 November 1945 — perang paling heroik dalam sejarah Indonesia.




2 Komentar