Leluhur Jawa menggunakan sesajen sebagai sistem peringatan dini erupsi gunung berapi melalui observasi perilaku fauna setempat.


KOSONGSATU. ID – ​Masyarakat modern sering kali memandang sesajen semata-mata sebagai praktik ritualistik yang bersifat mistis. Namun, jika kita menelusuri lebih dalam dengan kacamata empiris, tradisi masyarakat Jawa kuno ini menyimpan metodologi sains yang sangat maju pada zamannya.

Sebelum teknologi sensor seismograf ditemukan, leluhur kita telah mengembangkan sistem peringatan dini atau early warning system, yang cerdas dan akurat untuk menghadapi ancaman erupsi gunung berapi.

​Sesajen sebagai Instrumen Bio-Indikator

​Masyarakat Jawa kuno secara rutin membawa sesajen, seperti tumpeng dan buah-buahan, ke kaki gunung. Secara teknis, sesajen ini berfungsi sebagai instrumen pengamatan atau “umpan” untuk memantau keberadaan fauna di zona bahaya.

​Logikanya sederhana namun efektif: jika sesajen habis dimakan hewan, berarti kondisi gunung masih aman. Sebaliknya, jika makanan tersebut tetap utuh dan hewan-hewan liar menghilang dari kawasan tersebut, itu merupakan sinyal merah.

Itu menandakan bahwa hewan, yang memiliki insting lebih tajam, telah mendeteksi perubahan alam dan bermigrasi menjauh dari puncak gunung.

​Analisis Sains: Sensor Biologis dan Gas Beracun

​Sains modern mengonfirmasi bahwa hewan memiliki kepekaan sensorik yang jauh melampaui manusia. Terdapat tiga alasan ilmiah mengapa perilaku hewan dalam ritual sesajen ini sangat akurat sebagai penanda bencana:

  • ​Sensitivitas Infrasonik: Hewan dapat mendengar gelombang infrasonik, yaitu getaran frekuensi rendah di bawah 20 Hz yang dihasilkan oleh pergerakan magma. Manusia tidak bisa merasakan getaran ini, tetapi hewan akan merasa gelisah dan segera menjauh.
  • Deteksi Gas Vulkanik: Sebelum meletus, gunung sering kali mengeluarkan gas seperti belerang (SO2) atau karbon dioksida (CO2) dalam kadar kecil. Hewan dengan indra penciuman tajam akan mendeteksi perubahan komposisi udara ini jauh sebelum sensor elektronik menangkapnya.
  • Anomali Elektromagnetik: Pergerakan magma di bawah permukaan bumi dapat mengubah medan magnet lokal. Banyak hewan menggunakan medan magnet sebagai navigasi, sehingga perubahan sekecil apa pun akan mendorong mereka untuk melakukan migrasi darurat.

​Dengan demikian, sesajen bukan sekadar persembahan tanpa tujuan, melainkan cara manusia “berkomunikasi” dengan alam untuk mendapatkan data keamanan lingkungan.

​Paradigma Ekologis: Hubungan Subjek dengan Alam

​Samsul Maarif dalam bukunya Indigenous Religion Paradigm menawarkan sudut pandang yang fundamental mengenai praktik ini. Beliau menekankan bahwa dalam agama leluhur, alam bukanlah objek eksploitasi, melainkan subjek yang setara dengan manusia.

​Sesajen merupakan manifestasi dari komitmen ekologis. Saat masyarakat meletakkan sesajen, mereka sedang merawat relasi dengan “Ibu Bumi”. Maarif menjelaskan bahwa menganggap sesajen sebagai bentuk penyembahan berhala adalah cara berpikir kolonial yang keliru.

Alih-alih mistis, sesajen justru merupakan simbol keterhubungan manusia, Tuhan, dan alam dalam satu kosmologi yang selaras. Praktik ini mengajarkan bahwa kelangsungan hidup manusia bergantung pada kemampuan kita untuk membaca tanda-tanda yang diberikan oleh alam.

Relevansi di Era Krisis Ekologis

​Di tengah krisis lingkungan global, pengetahuan adat seperti sesajen menawarkan alternatif cara berpikir. Saat teknologi modern terkadang memisahkan manusia dari lingkungan, kearifan lokal justru menuntut kita untuk lebih peka terhadap dinamika alam.

Mengakui sesajen sebagai pengetahuan adat berarti menghargai intelektualitas leluhur yang mampu menciptakan sistem keselamatan tanpa memerlukan listrik atau koneksi internet. Sudah saatnya kita melihat warisan ini bukan sebagai masa lalu yang kolot, melainkan sebagai bekal untuk masa depan yang lebih harmonis dengan alam.***


​Daftar Pustaka

  • ​Maarif, S. (2017). Indigenous Religion Paradigm: Re-interpreting Religious Practices of Indigenous People. Yogyakarta: CRCS UGM.
  • ​ICIR Rumah Bersama. (2022). Forum Kamisan Daring: Agama Leluhur, Pengetahuan Adat, dan Bumi yang Darurat.
  • Smith, J. J. (2018). Bio-indicators and Natural Disaster Warning Systems. Journal of Environmental Science and Ecology.
  • Tributsch, H. (1984). When the Snakes Awake: Animals and Earthquakes. MIT Press (Untuk referensi sensitivitas hewan terhadap bencana).