​Sesajen merupakan manifestasi dari komitmen ekologis. Saat masyarakat meletakkan sesajen, mereka sedang merawat relasi dengan “Ibu Bumi”. Maarif menjelaskan bahwa menganggap sesajen sebagai bentuk penyembahan berhala adalah cara berpikir kolonial yang keliru.

Alih-alih mistis, sesajen justru merupakan simbol keterhubungan manusia, Tuhan, dan alam dalam satu kosmologi yang selaras. Praktik ini mengajarkan bahwa kelangsungan hidup manusia bergantung pada kemampuan kita untuk membaca tanda-tanda yang diberikan oleh alam.

Relevansi di Era Krisis Ekologis

​Di tengah krisis lingkungan global, pengetahuan adat seperti sesajen menawarkan alternatif cara berpikir. Saat teknologi modern terkadang memisahkan manusia dari lingkungan, kearifan lokal justru menuntut kita untuk lebih peka terhadap dinamika alam.

Mengakui sesajen sebagai pengetahuan adat berarti menghargai intelektualitas leluhur yang mampu menciptakan sistem keselamatan tanpa memerlukan listrik atau koneksi internet. Sudah saatnya kita melihat warisan ini bukan sebagai masa lalu yang kolot, melainkan sebagai bekal untuk masa depan yang lebih harmonis dengan alam.***


​Daftar Pustaka

  • ​Maarif, S. (2017). Indigenous Religion Paradigm: Re-interpreting Religious Practices of Indigenous People. Yogyakarta: CRCS UGM.
  • ​ICIR Rumah Bersama. (2022). Forum Kamisan Daring: Agama Leluhur, Pengetahuan Adat, dan Bumi yang Darurat.
  • Smith, J. J. (2018). Bio-indicators and Natural Disaster Warning Systems. Journal of Environmental Science and Ecology.
  • Tributsch, H. (1984). When the Snakes Awake: Animals and Earthquakes. MIT Press (Untuk referensi sensitivitas hewan terhadap bencana).