IAEA juga menyatakan bahwa informasi dari negara-negara regional menunjukkan tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi. Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi memantau situasi dan menyerukan pengendalian maksimal di sekitar fasilitas nuklir.
Netanyahu: Israel Akan Terus Menyerang di Semua Lini
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons serangan ini dengan pernyataan keras. Dalam unggahan di X, ia menyebut Sabtu malam sebagai “malam yang sangat sulit dalam kampanye untuk masa depan kita”.
“Saya menguatkan pasukan darurat dan penyelamat yang bekerja di lapangan saat ini, dan saya memanggil semua orang untuk mengikuti instruksi Komando Dalam Negeri. Kami bertekad untuk terus menyerang musuh kami di semua lini,” ujar Netanyahu.
Kementerian Luar Negeri Israel mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang yang terang-terangan dan terorisme murni. Mereka menyoroti bahwa lebih dari 100 orang terluka termasuk anak-anak akibat serangan yang disengaja terhadap warga sipil.
Iran Klaim Serangan Balasan “Mata Ganti Mata”
Serangan ini merupakan eskalasi dari konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Ahli urusan internasional Iran, Morteza Simiari, menjelaskan strategi baru Teheran dalam wawancara dengan IRIB TV. “Serangan ini dilakukan kurang dari 24 jam setelah Israel dengan ‘gila’ menyerang fasilitas Natanz,” katanya.
Simiari menambahkan bahwa strategi “mata ganti mata” baru Iran berarti memberikan respons timbal balik dengan intensitas lebih besar terhadap setiap tindakan militer yang dilakukan Israel.
Israel Balas Serang Teheran
Tak lama setelah serangan ke Dimona dan Arad, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa Angkatan Udara melakukan serangan balasan di Teheran. Serangan tersebut menargetkan infrastruktur Iran.
IDF juga membuka penyelidikan internal atas kegagalan sistem Iron Dome mencegat rudal Iran. Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan.
Komunitas internasional melalui IAEA terus mendesak pengendalian diri untuk mencegah perluasan perang regional yang lebih luas.***




0 Komentar