Iran menyebut tuntutan Washington tidak logis dan inkonsisten dengan komitmen Non-Proliferasi Nuklir. Pakar menilai kegagalan ini buah hipokrasi negara adidaya yang bebas perkaya uranium, sementara Israel yang tak menandatangani perjanjian justru bebas menimbun hulu ledak nuklir.


KOSONGSATU.ID – Perundingan maraton selama lebih dari 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), menemui jalan buntu. Kegagalan diplomasi ini tak hanya soal tegangnya relasi kedua negara, tetapi juga memicu kritik tajam terhadap inkonsistensi negara-negara Barat dalam menangani isu nuklir global.

Kantor berita Tasnim membeberkan bahwa AS berusaha menekan Iran untuk menyerahkan kendali atas Selat Hormuz dan membatasi pengayaan uranium. Menariknya, tuntutan ini merupakan konsesi yang gagal diraih AS lewat eskalasi militer selama lebih dari 40 hari perang.

Standar Ganda: Nuklir AS Boleh, Iran Tidak

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa—sebagaimana dikutip Rakyat Merdeka—menilai kegagalan ini adalah buah dari hipokrasi dan inkonsistensi negara-negara Barat dalam mengimplementasikan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Alih-alih melucuti senjata sejak NPT berlaku pada 1970, Barat dan sekutunya justru terus memperkaya uranium untuk kebutuhan militer. Amerika Serikat dan Rusia masih menyimpan ribuan hulu ledak nuklir.

Lebih ironis lagi, Israel yang menolak menandatangani perjanjian tersebut justru bebas menimbun hulu ledak nuklir. Negara itu bahkan menjadi perundung di kawasan Timur Tengah tanpa pernah mendapat sanksi berarti dari komunitas internasional.

“Dengan situasi ini, wajar kalau negara-negara yang merasa rentan terhadap serangan AS dan sekutunya merasa harus mengembangkan persenjataan serupa sebagai faktor pencegah (deterrence),” jelas Teguh.

Tuntutan Tidak Logis yang Menghancurkan Negosiasi

Televisi pemerintah Iran pada Minggu (12/4/2026) melaporkan bahwa sikap AS menjadi biang keladi kebuntuan. Washington memaksa Teheran menerima tuntutan berlebihan dan tidak logis yang menghancurkan seluruh kemajuan negosiasi.