Serangan rudal balistik Iran menghantam kota Dimona dan Arad di Israel selatan, menyebabkan 180 korban luka dan menggagalkan sistem pertahanan Iron Dome.


KOSONGSATU.ID—Iran meluncurkan dua rudal balistik ke wilayah Israel selatan pada Sabtu (21/3/2026) malam. Kedua rudal tersebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam kawasan permukiman di Kota Dimona dan Arad.

Kementerian Kesehatan Israel memperbarui jumlah korban pada Minggu (22/3/2026). Di Arad, 116 orang terluka dengan tujuh di antaranya dalam kondisi serius. Di Dimona, 64 orang mengalami luka-luka dan satu orang dalam kondisi kritis.

Wali Kota Arad, Yair Maayan, menyatakan sekitar 150 keluarga dievakuasi dari lingkungan yang terkena serangan. Petugas pemadam kebakaran Israel mengonfirmasi rudal pencegat telah diluncurkan tetapi tidak mengenai sasaran.

Dimona: Lokasi Fasilitas Nuklir Paling Dijaga

Dimona merupakan lokasi Shimon Peres Negev Nuclear Research Center, fasilitas nuklir utama Israel. Pusat penelitian ini berada sekitar 13 kilometer tenggara Kota Dimona di Gurun Negev.

Fasilitas tersebut diyakini sebagai inti program senjata nuklir Israel dengan reaktor air berat yang beroperasi sejak 1962 hingga 1964. Israel bukan penandatangan Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT), sehingga fasilitas Dimona berada di luar mandat inspeksi IAEA.

Kerahasiaan fasilitas ini terbongkar pada 1986 ketika teknisi Mordechai Vanunu membocorkan detail dan foto yang mengungkap kemampuan nuklir Israel.

IAEA Pastikan Fasilitas Nuklir Aman

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) segera merespons dengan pernyataan resmi. IAEA mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir Negev tidak mengalami kerusakan akibat serangan rudal tersebut.

“IAEA mengetahui laporan tentang insiden di kota Dimona, Israel, yang melibatkan dampak rudal dan belum menerima indikasi adanya kerusakan pada pusat penelitian nuklir Negev,” demikian pernyataan IAEA di akun X resmi mereka.

IAEA juga menyatakan bahwa informasi dari negara-negara regional menunjukkan tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi. Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi memantau situasi dan menyerukan pengendalian maksimal di sekitar fasilitas nuklir.

Netanyahu: Israel Akan Terus Menyerang di Semua Lini

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons serangan ini dengan pernyataan keras. Dalam unggahan di X, ia menyebut Sabtu malam sebagai “malam yang sangat sulit dalam kampanye untuk masa depan kita”.

“Saya menguatkan pasukan darurat dan penyelamat yang bekerja di lapangan saat ini, dan saya memanggil semua orang untuk mengikuti instruksi Komando Dalam Negeri. Kami bertekad untuk terus menyerang musuh kami di semua lini,” ujar Netanyahu.

Kementerian Luar Negeri Israel mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang yang terang-terangan dan terorisme murni. Mereka menyoroti bahwa lebih dari 100 orang terluka termasuk anak-anak akibat serangan yang disengaja terhadap warga sipil.

Iran Klaim Serangan Balasan “Mata Ganti Mata”

Serangan ini merupakan eskalasi dari konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

Ahli urusan internasional Iran, Morteza Simiari, menjelaskan strategi baru Teheran dalam wawancara dengan IRIB TV. “Serangan ini dilakukan kurang dari 24 jam setelah Israel dengan ‘gila’ menyerang fasilitas Natanz,” katanya.

Simiari menambahkan bahwa strategi “mata ganti mata” baru Iran berarti memberikan respons timbal balik dengan intensitas lebih besar terhadap setiap tindakan militer yang dilakukan Israel.

Israel Balas Serang Teheran

Tak lama setelah serangan ke Dimona dan Arad, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa Angkatan Udara melakukan serangan balasan di Teheran. Serangan tersebut menargetkan infrastruktur Iran.

IDF juga membuka penyelidikan internal atas kegagalan sistem Iron Dome mencegat rudal Iran. Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan.

Komunitas internasional melalui IAEA terus mendesak pengendalian diri untuk mencegah perluasan perang regional yang lebih luas.***