Kini, wasiat itu terwujud dengan cara yang tak terduga. Makamnya di sekitar Karet Bivak telah hilang tertimbun bangunan apartemen. Seperti pesannya: jika ingin mendoakan, cukup dari tempat masing-masing, tanpa perlu menziarahi jasadnya yang kini telah menyatu dengan tanah Jakarta yang dicintainya.

Kisah Datuk Mujib bin Sa’abah mengajarkan bahwa kontribusi besar bagi bangsa tidak selalu harus tertulis dalam tinta emas buku sejarah formal. Dari pinggiran Tanah Abang, ia menyumbangkan spirit perjuangan, meluruskan akidah, hingga memberikan sentuhan spiritual bagi para bapak bangsa. Meski makamnya kini tiada berbekas, warisan ilmu dan “Jakarta” yang ia saksikan kelahirannya, tetap abadi.***


Sumber:

  • Merdeka.com. (2013, 21 Agustus). Cerita Datuk Mujib, Guru Spiritual Soekarno. Diakses dari Merdeka.com.
  • Wawancara dengan Bahtinoor (Murid Datuk Mujib) dan Encing Alam (Cucu Datuk Mujib), sebagaimana dikutip dalam naskah sumber.
  • Dokumentasi Sejarah Lisan Masyarakat Tanah Abang.