Soekarno kerap mengunjungi kediaman Datuk Mujib di Gang Mess Dalam, setidaknya empat kali dalam sebulan, seringkali ditemani H. Agus Salim. Ketertarikan Bung Karno bermula dari syair-syair perjuangan karangan Datuk Mujib yang dijual murid-muridnya di depan Istana.
Cucu Datuk Mujib, Encing Alam, menuturkan bahwa tongkat komando yang selalu dibawa Bung Karno konon adalah pemberian sang kakek. Tongkat tersebut diyakini memiliki karomah, pernah digunakan Datuk Mujib untuk menghalau serangan tentara Belanda dari Kalimalang hingga membuat pasukan tersebut justru menyerang rekannya sendiri.
Saksi Nama “Jakarta” dan Penolak Tafsir Sembarangan
Kedekatan emosional membuat Bung Karno pernah berseloroh bahwa kepanjangan “Jakarta” adalah “Jalan Karet Tanah Abang”. Momen ini disaksikan langsung oleh Datuk Mujib serta dua jagoan silat Tanah Abang, Sabeni dan Rachmat. Datuk Mujib bahkan mengabadikan suasana Jalan Karet (kini Jl. KH Mas Mansyur) dalam sebuah syair jenaka:
Jalanan Karet ke prapatan
Banyak kendaraan cari muatan
Ngulon dan ngidul, ngulon dan Ngetan
Banyak pohon duren dan rambutan
Pengajar guru yang keliatan
Elok dan pantes ane buatkan.
Di sisi lain, Datuk Mujib adalah ulama yang teguh pada prinsip. Ketika Bung Karno berniat membuat tafsir Al-Qur’an berbahasa Indonesia dan mengumpulkan para ulama, Datuk Mujib menolak dengan cara halus namun tegas. Ia menggunakan analogi segelas air yang dicampur susu, sirop, dan gula. Air itu tetap halal diminum, namun tidak lagi suci dan menyucikan. Soekarno pun paham dan membatalkan niatnya untuk menafsirkan Al-Qur’an secara bebas.
Karamah dan Wasiat Makam yang Hilang
Selain kisah heroik membelokkan peluru meriam Belanda dengan sorbannya saat Agresi Militer II, Datuk Mujib dikenal sebagai sosok yang low profile. Ia bahkan pernah menolak permintaan Bung Hatta untuk menjadi penghulu pernikahan anaknya dengan alasan, “Penghulu pekerjaan nggak bener.”
Datuk Mujib wafat pada usia 115 tahun di era 1950-an. Sesuai wasiatnya, ia tidak ingin makamnya dihias, diberi marmer, atau dibangun kubah. Ia khawatir makamnya akan dikeramatkan dan dijadikan tempat meminta-minta (syirik).




0 Komentar