Kepala Bakom sebut ada “kekuatan gelap” dalam dan luar negeri yang tidak senang dengan kebijakan tata niaga ekspor sumber daya alam Presiden Prabowo.

KOSONGSATU.ID — Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari memperingatkan Presiden Prabowo Subianto berpotensi menghadapi perlawanan dari berbagai pihak akibat reformasi tata niaga ekspor sumber daya alam yang kini tengah berjalan.

Qodari menyampaikan hal itu saat peluncuran buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Prabowo Subianto di University Club, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).

“Pak Prabowo ini bukan mustahil under attack, under siege, dalam kepungan, karena Pak Prabowo melakukan perubahan-perubahan yang sangat fundamental terhadap tata cara berniaga,” tegas Qodari.

Menurutnya, langkah Prabowo membenahi tata niaga kekayaan alam berpotensi memantik resistensi dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan sistem lama.

Kebocoran Devisa dan Praktik Curang Ekspor

Qodari menyoroti ironi yang berlangsung bertahun-tahun: segelintir pengusaha menguasai lahan tambang dan perkebunan dengan modal pinjaman dari bank negara, namun devisa hasil ekspor justru mengendap di luar negeri.

Ia menyinggung praktik under invoicing — manipulasi nilai transaksi ekspor agar lebih rendah dari nilai sesungguhnya — hingga transfer pricing sebagai masalah serius yang ingin dikoreksi pemerintah.

“Semua itu ingin dikoreksi oleh Pak Prabowo supaya pendapatan bagi bangsa dan negara ini menjadi lebih besar dan uangnya dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Qodari.

Sebagai respons atas kebocoran itu, Presiden Prabowo telah menerbitkan PP Nomor 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis pada 20 Mei 2026, berlaku mulai 1 Juni 2026.

Lewat beleid itu, ekspor tiga komoditas strategis — batubara, kelapa sawit, dan ferro alloy — hanya dapat dilakukan oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) selaku BUMN eksportir tunggal. Implementasi penuh dijadwalkan berlaku pada 1 Januari 2027.

Ancaman dari Dalam dan Luar Negeri

Qodari memperingatkan terobosan besar itu tidak akan berjalan tanpa gesekan. Ia menyebut kemungkinan munculnya “kekuatan gelap” yang menentang arah kebijakan Prabowo.