Ayatollah Ali Khamenei dan para ulama Palestina meramalkan kekuasaan Israel berakhir menjelang tahun 2027. Janji kemenangan sedang berkobar.


Di tengah kobaran konflik yang belum padam, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan keyakinannya: Republik Islam Iran akan menang atas rezim Zionis.

Pernyataan itu ia kutip dari Al-Qur’an Surah As-Saff ayat 13—“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat”—dan diunggah ke akun media sosial X pada Senin, 17 Juni 2025.

Kalimat singkat itu merangkum keyakinan teologis yang menyala-nyala: Israel akan hancur, dan kemenangan umat Islam hanya tinggal menunggu waktu.

Unggahan Khamenei merujuk pada pidato lengkap yang disiarkan televisi nasional Iran tiga hari sebelumnya, menyusul serangan Israel yang menewaskan sejumlah komandan dan ilmuwan Iran.

“Atas karunia Tuhan, konsekuensi dari hal ini akan membawa rezim tersebut menuju kehancuran,” kata Khamenei, yang menyebut serangan itu sebagai kesalahan fatal Israel. “Bangsa Iran tidak akan tinggal diam.”

Keyakinan serupa pernah diungkap Syekh Ahmad Yassin, pendiri Hamas, dalam wawancara bersama jurnalis Al Jazeera pada 5 Juni 1999. Ia menyatakan bahwa Israel akan mengalami kehancuran pada 2027—ramalan yang menurutnya berdasar pada ritme sejarah dalam Al-Quran: setiap 40 tahun, generasi berganti.

“Nakba terjadi pada 1948, Intifada pecah pada 1987, dan 2027 akan menyaksikan kehancuran Israel,” katanya.

Gagasan itu menemukan gema di kalangan akademik. Profesor Abd Al-Fattah El-Awaisi, pakar hubungan internasional dan pembebasan Baitul Maqdis, menyebut tahun 2027 sebagai puncak kekuatan Hamas dan titik senja Israel. Dalam pandangannya, usia 40 tahun adalah masa kejayaan bagi sebuah gerakan, sedangkan 80 tahun adalah masa rapuh bagi sebuah negara.

“Ini ditandai dengan Taufan Al-Aqsa pada Oktober 2023,” ujarnya.

Nada peringatan juga datang dari Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Izzuddin Al-Qassam. Dalam pernyataannya pada 28 Oktober 2023, ia menyebut Zionis tengah memasuki laknat “Al-‘Aqd Al-Tsamin”—dasawarsa kedelapan yang diyakini sebagian kaum Yahudi sebagai masa kutukan.

Ramalan itu bukan hanya milik musuh Israel. Ehud Barak, mantan Perdana Menteri Israel, pernah menyatakan dalam kolomnya di Yedioth Ahronoth bahwa belum pernah ada negara Yahudi yang bertahan lebih dari 80 tahun. Ia menulis dengan nada muram: “Apakah kita akan mengulang sejarah?”

Saat langit Timur Tengah terus bergolak, janji kemenangan dan isyarat kehancuran itu kini menggantung di udara. Entah sebagai nubuat, propaganda, atau cermin dari sejarah yang berulang.***