Menghadapi tekanan dari berbagai penjuru, manajemen PT Agrinas akhirnya buka suara. Mereka mengklaim bahwa opsi impor diambil sebagai solusi paling rasional, cepat, dan murah. Lonjakan kebutuhan logistik terjadi seiring masifnya pembangunan fisik koperasi yang saat ini telah mencapai 1.357 unit selesai dibangun, dengan lebih dari 30.000 unit lainnya dikebut dalam tahap konstruksi.
“Kami harus merespons urgensi pengadaan mobil Kopdes Merah Putih ini demi memastikan logistik di desa tidak terputus,” jelas perwakilan manajemen Agrinas dalam pernyataan resminya.
Risiko Bottleneck Pasokan
Situasi kini berada di persimpangan jalan yang pelik. Dalam jangka pendek, tekanan politik dari Senayan dan ancaman demonstrasi buruh kemungkinan besar akan memaksa pemerintah menjatuhkan moratorium (pembekuan sementara) izin impor guna meredam tensi publik.
Namun, jika impor dibatalkan mutlak, Agrinas diprediksi akan kesulitan mencari pabrikan lokal yang sanggup memenuhi kuota 105.000 unit kendaraan niaga dalam tenggat waktu singkat, tanpa memicu lonjakan beban pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Alhasil, operasional dan rantai pasok Kopdes Merah Putih kini terancam mengalami bottleneck (hambatan) serius di tengah tarik-ulur kepentingan elite dan nasib kelas pekerja. ***



Tinggalkan Balasan