AS dan Iran membuka jalan menuju kesepakatan dalam 60 hari. Harga minyak turun, tetapi pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal dan 22 kapal Korea Selatan masih tertahan.
KOSONGSATU.ID — Perundingan Amerika Serikat dan Iran di Bürgenstock, Swiss, menghasilkan peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Kabar itu menekan harga minyak dunia pada Senin, 22 Juni 2026.
Namun, perkembangan diplomatik belum sepenuhnya memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Mediator Qatar dan Pakistan menyebut putaran awal perundingan menghasilkan kemajuan yang menggembirakan. Kedua pihak juga membuka jalur komunikasi untuk menjaga keselamatan kapal dagang.
Pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini di Bürgenstock. Namun, isu program nuklir Iran, pelonggaran sanksi, konflik Lebanon, dan keamanan Hormuz masih menjadi ganjalan utama.
Minyak Turun, Risiko Belum Hilang
Harga minyak Brent turun 0,7 persen ke sekitar USD80,07 per barel setelah pasar membaca risiko gangguan pasokan global mulai mereda.
Penurunan itu mencerminkan optimisme terhadap diplomasi, bukan kepastian bahwa arus logistik energi telah kembali aman.
Teheran sebelumnya menyatakan kembali menutup Selat Hormuz karena belum ada penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Data Kpler mencatat hanya lima kapal melintas pada Minggu, turun dari 26 kapal sehari sebelumnya.
Kapal Mulai Bergerak Terbatas
Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menyatakan dua kapal yang dioperasikan perusahaan Korea telah melintasi Hormuz setelah nota kesepahaman gencatan senjata ditandatangani pekan lalu.
Kedua kapal itu disebut berlayar normal, tetapi belum sepenuhnya keluar dari zona berisiko tinggi. Di saat bersamaan, 22 kapal yang dioperasikan perusahaan Korea Selatan masih tertahan di kawasan selat tersebut.
Kondisi itu menunjukkan pelayaran mulai bergerak, tetapi belum kembali normal. Pasar masih menunggu bukti bahwa mekanisme keselamatan kapal dapat berjalan konsisten di lapangan.
Bagi Indonesia, ketegangan di Hormuz tetap perlu dipantau karena gangguan baru dapat kembali memengaruhi biaya energi, ekspektasi inflasi, nilai tukar rupiah, dan sentimen pasar saham.
Peta jalan 60 hari memberi pasar alasan untuk bernapas. Namun, kapal-kapal yang masih tertahan menunjukkan jalur menuju stabilitas energi global belum benar-benar terbuka.***





Tinggalkan Balasan